New Posting

Minggu, 06 Maret 2011

Media sosial Tugas MK CYberMedia


Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat.
Jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama akan suatu hal.
id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial - Salinan



TURUNNYA sang tiran Hosni Mobarak dari jabatan presiden Mesir tidak lepas dari peran media sosial. Para pengamat menilai saat ini masyarakat lebih sadar akan kekuatan media sosial dalam menghadapi krisis nasional.

Pemilu di Iran pada 2009 yang memicu kemarahan para penguasa di sana lantaran sebagian masyarakat menyebarkan gerakan politik secara diam-diam melalui jejaring sosial Twitter. Kemarahan pemerintah yang berkuasa saat itu akhirnya memicu pemblokiran seluruh jaringan internet di Irak.

Kekuatan media sosial juga telah membuka mata dunia saat terjadi gempa bumi di Haiti dan berlanjut pada masalah krisis kesehatan, akibat wabah kolera.

Dan kini jatuhnya kekuasaan Hosni Mubarak telah disaksikan jutaan orang di dunia lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook. Ketika Mubarak bersikukuh tidak bersedia turun, para demonstran tetap bergerilya melakukan aksi bawah tanah melalui jejaring sosial. Bahkan Google ambil peran untuk ikut memberikan bantuan menjembatani suara masyarakat Mesir ke dunia, lewat Twitter, Facebook, dan YouTube.

Baru-baru ini Palang Merah Amerika dan Yayasan Manajemen Kongres telah melakukan penelitian seberapa besar peran media sosial terhadap situasi darurat maupun krisis nasional.

Hampir separuh responden dalam survei baru-baru ini, memilih menggunakan media sosial dalam memberitahu kerabat dan teman-teman saat terjadi bencana atau krisis sosial. Para responden menyebut media sosial memiliki energi dan lebih menyentuh. (Mashable/OL-12)
mediaindonesia.com/.../807/4/-Keampuhan-Media-Sosial-Di-Saat-Krisis- - Salinan

Masih berminat untuk menjadi pejabat publik sebangsa walikota, bupati, gubernur, menteri, atau bahkan presiden dan sebagainya? Mungkin Anda perlu berpikir matang-matang, terutama di saat media sosial makin marak dalam tempo tidak lama lagi. Ketika masa itu tiba, Anda, para pejabat publik, akan semakin gerah dan lebih sering merasa ”ditelanjangi” karena apapun kebijakan yang digariskan akan dikupas habis-habisan secara langsung oleh masyarakat.
Perkembangan media sosial (social media) di jagat maya yang kian menjadi-jadi itu akan mendampingi—atau bahkan melampaui  kemampuan—media massa yang sudah eksis selama ini. Fenomena ini menandai sebuah era perubahan besar yang bukan tidak mungkin akan mengubah berbagai peta dunia, baik dari sisi demografi, ekonomi, sosial, bahkan politik.
Betapa tidak. Perkembangan media sosial kini jauh lebih pesat seiring dengan penetrasi peranti komunikasi bergerak, ketersediaan jaringan komunikasi yang lebih berkualitas dan makin terjangkaunya biaya komunikasi itu sendiri. Lihat saja beberapa fenomena penyuaraan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah secara terang-terangan di beberapa media sosial populer seperti Facebook dan Twitter.
Bagi yang aktif mengikuti pergerakan isu melalui media sosial mungkin belum lupa ketika Menteri Kominfo Tifatul Sembiring diblejeti habis-habisan di Twitter setelah bersalaman dengan Ibu Negara AS Michelle Obama sewaktu bersama suaminya mengadakan kunjungan kenegaraan di Jakarta.
Peristiwa itu pun menuai protes melalui “media kicauan” tersebut yang menyatakan kenapa kalau sama First Lady AS mau bersalaman tapi dengan perempuan lainnya tidak pernah mau. Seakan ingin membela diri, mantan Presiden PKS itu berkilah bahwa Ibu Obamalah yang menyodorkan tangan terlebih dulu dan posisi dirinya kepepet sehingga dia terpaksa menerima uluran tangan alias bersalaman tersebut.
Spontan saja, di dunia per-tweet-an dipenuhi reaksi pro-kontra soal peristiwa persalaman—yang diekspresikan sebagai #salaman (dibaca sebagai “hash tag salaman”) alias pengategorian terhadap topik, subjek atau terminologi yang merujuk pada peristiwa salaman tersebut. Bahkan, tak tanggung-tanggung, topik #salaman itu sempat menjadi trending topics alias topik hangat beberapa jam di jagat Twitter global, sampai-sampai sejumlah media online AS mengangkatnya menjadi berita atau artikel.
Bagi sejumlah orang, mengedepankan persoalan seperti itu memang terkesan remeh-temeh. Namun, karena hal ini menyangkut konsistensi sikap dari seorang tokoh publik atau selebritis maka menjadi relevan adanya sehingga menjadi bahan perbincangan publik. Bahkan, bagi sejumlah publik AS, pernyataan bernada keengganan salah seorang pejabat tinggi Indonesia untuk bersalaman dengan Ibu Negara mereka dianggap sebagai sebuah sikap tidak menghormati tamu negara, mengingat mereka tidak memahami alasan dasar yang berkaitan dengan keyakinan seseorang itu.
Itu sekadar contoh betapa partisipasi masyarakat dalam menyoroti berbagai urusan publik kini semakin jauh dan kian mendalam sehubungan dengan meningkatnya partisipasi mereka dalam bersuara melalui media sosial. Tentu saja topik yang akan digemakan pun makin bervariasi dan akan lebih tajam pengupasannya.
Revolusi 2.0
Kisah terbaru tentang media sosial tentu saja tumbangnya pemerintahan Hosni Mubarak. Peristiwa dramatis yang berkulminasi pekan lalu itu menjadi salah satu bukti yang makin memperjelas betapa kekuatan media sosial demikian luar biasa. Tanpa mengecilkan arti gerakan anti-Mubarak yang dilakukan serentak oleh 20 jutaan warga Mesir di pelbagai kota atau wilayah di Negeri Piramida itu, dukungan antusias dari  ratusan juta warga Facebook dan puluhan juta warga Twitter sedikit banyak memberikan andil bagi upaya memundurkan Mubarak dari tampuk kekuasaan yang dikangkanginya selama tiga dekade tersebut.
Tidak berlebihan kiranya jika media sosial, terutama Facebook, sedikit banyak turut menyumbang keberhasilan rakyat Mesir menjungkalkan Mubarak dari kursi kekuasaannya, sehingga gerakan massa tersebut dijuluki sebagai Revolusi Facebook atau Revolusi 2.0 (Internet 2.0 yang mulai diglobalkan pertengahan dekade 2000-an ditandai sebagai internet interaktif).
Warga dunia pun makin paham duduk perkara kenapa pemerintahan Mubarak harus dilengserkan karena penguasa Mesir tersebut cenderung menjadi penguasa absolut dan tentu saja tidak tertutup kemungkinan pemerintahannya korup. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, disebutkan bahwa kekayaan keluarga Mubarak mencapai puluhan miliar dolar AS—bahkan ada yang menyebutkan angka ratusan miliar dolar AS.
Padahal, di sisi lain masih banyak warga Mesir yang hidup dalam kekurangan sehingga mereka cukup sensitif ketika harga berbagai barang kebutuhan pokok di pasaran melonjak seiring dengan tren kenaikan harga minyak dunia.
Mesir memang bukan negara kaya, malah cenderung miskin. Menurut catatan Bank Dunia, GDP rakyat Mesir sekitar US$2.500 per kapita pada akhir 2009. Selama Mubarak berkuasa, negeri itu memperoleh bantuan dari AS senilai US$36 miliar sebagai kompensasi dari ”sikap manis” Mesir menjaga perdamaian dengan Israel—sekutu utama AS di Timur Tengah—serta berbagai peran penting yang dimainkan negeri para Firaun itu secara langsung maupun tidak dalam menjembatani kepentingan Gedung Putih di kawasan tersebut.
Tanpa perantaraan media jejaring sosial, mungkin saja keruntuhan kekuasaan Mubarak tetap saja berlangsung namun bisa jadi prosesnya akan lebih lama dan dukungan dunia barangkali tidak akan sebesar yang terjadi pekan silam. Namun, seperti diakui oleh banyak orang, peran media sosial—berbasis internet—tadi dalam menggalang massa sehingga mereka bersedia melaksanakan gerakan massal untuk menggulingkan pemerintahan Mubarak yang dinilai korup tersebut sangatlah efektif.
Seperti dikatakan Wael Ghonim, eksekutif pemasaran Google untuk Timur Tengah, yang konon dianggap mengarsiteki kampanye penggulingan Mubarak melalui Facebook, peran media sosial rintisan Mark Zuckerberg untuk membangun jaringan dan menggalang massa itu memang efektif.
Media sosial memang sekadar wadah, tidak lebih. Namun, dengan sentuhan kreativitas maupun kekritisan para penggunanya, terbukti bahwa ia menjadi alat ampuh untuk menuntaskan kegelisahan, ketidakpuasan, atau bahkan kemarahan massa. Karena itu, selayaknyalah setiap pemimpin kini bersikap dan bertindak lebih bijaksana.
Apakah Anda pemimpin negara, kepala pemerintahan tingkat daerah, maupun pemimpin institusi yang menyangkut kepentingan publik secara langsung, hendaknya tidak gegabah dalam menerapkan action plan dari kebijakan yang Anda gariskan. Karena, gerakan massa berbasis media sosial makin menguat posisinya dan suatu ketika akan menjadi sarana yang dapat menggoyang kedudukan Anda.
Akan tetapi, bukan berarti Anda harus selalu merasa waswas atau bahkan antipati terhadap eksistensi media sosial. Tidak! Justru, keberadaan media sosial tadi dapat menjadi sarana yang dapat mendukung kepemimpinan Anda. Untuk itu, Anda harus benar-benar memahami dan mengakrabi fungsi media sosial tadi, sehingga mampu memetik manfaatnya. Lebih penting lagi adalah bahwa Anda harus bersikap bijak, bersih dan dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinan Anda, agar tidak mudah digoyang siapa pun, baik melalui media bisik-bisik, media massa, maupun media sosial.
Ahmad Djauhar
Wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia



MEDIA SOSIAL JADI MEDIA PROMOSI, RI Juara Penetrasi Twitter
Oleh Rizagana dan Imam Suhartadi | Sabtu, 29 Januari 2011 | 10:02
Seorang user membuka Twitter di ponselnya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZASeorang user membuka Twitter di ponselnya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA
Berita Terkait
JAKARTA – Pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial di Tanah Air terus melesat. Bahkan Indonesia menempati peringkat pertama dunia penetrasi pengguna Twitter. Berdasarkan survey yang digelar comScore, rasio pengguna Twitter dibanding pengguna internet di Indonesia mencapai 20,8%, diikuti Brasil (20,5%), dan Venezuela 19,0%. Di AS, penetrasi pengguna Twitter bahkan hanya 11,9%.

Sedangkan dilihat dari perbandingan pengguna Twitter terhadap jumlah penduduk, Indonesia menempati peringkat keenam dunia dan tertinggi di Asia, sebesar 2,41%. Pengguna internet di Indonesia kini mencapai 45 juta. Dengan penetrasi 20,8%, berarti terdapat sembilan juta pemilik akun Twitter.

Media sosial tak lagi sekadar media pertemanan, tapi lebih dari itu. Apalagi dengan hadirnya blog-blog gratis, situs jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Youtube. Media social telah menjadi wadah penggalangan opini publik dalam rangka jual ‘diri’ atau jual produk.

Menurut Chief Marketing Officer PT Merah Cipta Media (MCM) Herman Kwok, media sosial dalam perkembangannya telah menjadi wahana penggalangan opini publik. Opini di dunia maya, kemudian ditransfer menjadi opini di dunia nyata. Itulah yang terjadi dalam kasus Wikileaks, pimpinan KPK Bibit- Chandra, serta Prita versus RS Omni International, dan yang lainnya.

“Fenomena ini wajar di Negara demokrasi seperti Indonesia. Justru dengan adanya media sosial kegundahan dan keresahan masyarakat mendapatkan tempat penyalurannya. Itu lebih bagus daripada mereka aksi turun ke jalan,” kata Herman Kwok di Jakarta, Kamis (27/1).

Namun, pentransferan opini di dunia maya menjadi opini di dunia nyata itu terjadi dengan cepat. “Ini perlu diwaspadai karena suatu rumor negatif dapat dengan mudah bergerak lebih cepat dan dalam skala yang sangat masif,” jelas dia. Itulah yang terjadi pada kasus Wikileaks, yakni pembocoran dokumen negara Amerika Serikat (AS), yang dilakukan secara masif lewat internet, dan kemudian ‘disahkan’ oleh media massa.

Media massa kemudian mencari konfirmasi dari pejabat-pejabat yang disebut di dalam dokumen itu.
Baca selengkapnya di Investor Daily versi digital di
http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Menggunakan Media Sosial Sesuai dengan Peruntukannya
oleh Fikri
bloggingly.com/menggunakan-media-sosial-sesuai-dengan-peruntukannya - 71k -
Social Media Chart
Di pertengahan dan akhir tahun lalu, diskusi mengenai “kematian” blog seiring dengan menaiknya penggunaan media sosial -yang berimplikasi tersitanya waktu untuk ngeblog- seperti Facebook, Twitter dan lain-lain kian marak. Hari ini, prediksi tersebut tampak menjadi nyata. Jumlah blogger senior yang aktif dari zaman sebelum blog bahkan populer tampak kian menurun. Mereka tampak lebih gemar menyampaikan ide lewat twitter yang lebih singkat, cepat, ringkas, realtime dan responsif. Saya pribadi menggunakan twitter dan merasakan betapa menyenangkannya media tersebut. Bagaimanapun, saya pribadi lebih memilih untuk aktif di beberapa media sosial yang saya anggap relevan dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan yang saya anggap relevan dengan media sosial tersebut.
Berikut ini adalah bagaimana saya memandang beberapa platform media sosial dan bagaimana saya menggunakannya. Perlu diingat bahwa tidak ada yang absolut di ranah web (bahkan tampilan polos Google saja tidak absolut), sehingga bagaimana saya menggunakan media sosial ini bersifat relatif: silahkan adopsi jika anda merasa cocok dan tidak masalah jika berbeda pandangan – silahkan sampaikan pandangan anda. :)
Facebook
facebook iconBerdasarkan diskusi yang sangat menarik via twitter dengan @ikhlasulamal, facebook adalah platform untuk membina hubungan. Facebook adalah platform untuk membina relationship dengan orang-orang yang kita kenal secara langsung di dunia nyata. Saya ulangi: dengan siapa yang kita kenal langsung di dunia nyata. Saya rasa inilah yang mendasari hubungan antar user di Facebook yang membutuhkan approval – untuk menjamin bahwa siapa yang terhubung dengan kita adalah orang-orang yang benar-benar kita kenal dan bukan alay yang meng-add anda karena profile picture anda terlihat kece dan agar jumlah teman di friendlistnya jadi banyak.
Implikasi dari pandangan saya diatas:
  • Pembicaraan saya di facebook lebih pribadi; Dengan jokes-jokes yang konteksnya mungkin hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengenal saya secara langsung. Conversationnya lebih personal.
  • Hanya teman-teman yang saya kenal secara langsung yang ada di friendlist saya.
  • Friend request dari orang yang tidak saya kenal secara langsung langsung saya ignore
  • Facebook adalah platform yang saya gunakan untuk menjaga hubungan dengan orang-orang yang saya kenal secara langsung.
Itu konsep dasarnya, pada prakteknya saya juga menggunakan photo application yang saya rasa sangat powerful sebagai default photo sharing saya untuk berbagi foto pada satu event dengan teman-teman saya. Lalu dikarenakan penetrasi facebook yang sangat tinggi dibandingkan twitter, banyak juga orang yang tidak saya kenal secara langsung memilih untuk berhubungan dengan saya via facebook. Untuk keperluan itu, saya membuat facebook page saya sendiri *berasa artis*.
Twitter
twitter iconMasih berdasarkan diskusi yang sangat menarik dengan @ikhlasulamal, twitter berbeda dengan facebook. Jika facebook dikembangkan untuk membina hubungan, twitter dikembangkan untuk melakukan “pembicaraan” atau “conversation”. Hal ini berdampak pada tidak perlunya kita mengumbar data pribadi di twitter: kita tidak perlu bio lengkap, nama asli, atau informasi esensial mengenai social graph kita. Hubungan antar user pun tidak memerlukan approval dan cukup di dasarkan hubungan “follow” dimana orang yang difollow tidak perlu memfollow balik jika dia rasa tidak perlu. Seperti obrolan ringan di angkot atau kedai kopi favorit anda: anda tidak perlu tahu siapa yang berbicara, apa latar belakangnya, atau apakah dia lajang atau duda: selama pembicaraannya menarik, lanjutkan saja.
Implikasi dari pandangan saya diatas:
  • Jika facebook adalah mengenai dengan siapa anda sekolah, twitter adalah mengenai dengan siapa anda ingin bersekolah
  • Pembicaraan di twitter bukan lagi pembicaraan personal
  • Saya tidak menutup “tweet” saya dengan protected tweet. Apa esensinya kalau begitu?
  • Facebook adalah mengenai apa yang saya ingin teman-teman saya ketahui tentang saya; Twitter adalah mengenai apa yang saya ingin dunia ketahui tentang saya. More professional discourse is tweeted in twitter instead in facebook.
  • Twitter app di handphone selalu menyala. Kadang-kadang ada yang menawarkan pekerjaan via direct message. Your twitter username is your social identity.
Blog
wordpress iconOke, jika twitter dan facebook memfasilitasi saya untuk “berbicara” baik kepada dunia dan teman-teman dekat, apalagi gunanya blog? Mengapa masih ngeblog?
Sederhana: karena blog lebih searchable.
Saya belum terlalu update dengan kabar terbaru seputar social search yang dikembangkan Google dan mesin pencari lain, tapi saya yakin kebanyakan orang-orang awam (seperti calon klien, calon partner atau bahkan calon mertua – kecuali kalau calon-calon nya geek pembaca setia DailySocial :p ) tidak akan tahu benda asing bernama social search. Jika mereka cukup tanggap terhadap teknologi, hal paling canggih yang saya asumsikan akan mereka lakukan adalah mengakses Google search / kolom search di Facebook dan mengetikan nama saya disana.
Di halaman pertama pasti terdapat akun facebook saya – namun mereka tidak akan bisa mengakses informasi personal karena privacy setting yang saya gunakan. Akun twitter juga akan nampak, namun tidak terlalu banyak pemikiran saya (yang bercampur dengan conversation – tentunya) yang dapat “ditangkap” melalui medium 140 karakter atau kurang yang jumlahnya berhalaman-halaman itu. Heck, this is why i need blog. Specifically, blogs.
Implikasi dari pandangan diatas, ini yang saya lakukan untuk blog:
  • Membuat blog pribadi dengan alamat namasaya.com (dalam kasus saya, fikrirasyid.com). Mengapa menggunakan nama asli langsung? Pertama agar orang tahu bahwa itu asli, kedua agar tampak baik di ranking Google Search, ketiga karena alamat blog adalah brand saya (itulah mengapa saya menggunakan .com alih-alih ngekos di free blog service).
  • Hal-hal yang saya bahas di blog pribadi adalah hal-hal yang sifatnya merupakan interest saya, namun bermanfaat jika saya share dengan orang awam / publik.
  • Untuk hal-hal yang sifatnya interest utama dan berpotensi menjadi karir, saya lebih pilih membuat satu niche blog lain. Sebenarnya digabung dengan personal blog pun bisa, namun saya lebih pilih membuat niche blog tambahan karena disatu titik tertentu (jika blognya menjadi terkenal dan membutuhkan perhatian ekstra) dapat dilakukan pendelegasian tanpa perlu canggung.
Bagaimana dengan media sosial lain?
Saya tidak terlalu aktif di media sosial lain, tapi saya memiliki akun di media sosial lain karena kebutuhan yang bersifat “musiman” (musiman untuk saya, tentunya – belum tentu musiman untuk anda) yang kerap kali ada:
  • YouTube untuk mempublikasikan video
  • Slideshare untuk mempublikasikan slide presentasi (btw, yang ini a-must-have jika anda seorang professional / guru / pelajar)
  • Scribd untuk mempublikasikan dokumen
  • Google Account untuk webmail client dan collaborative working dengan dokumen
  • Yahoo Account untuk berjaga-jaga dikala gmail bermasalah. Well, saya tidak terlalu aktif di berbagai service Yahoo sih.

Media Sosial Bisa Bikin Kesepian
http://kcdn5.stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/14/1111555p.jpg
Media sosial, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Artikel Terkait:
Selasa, 14/12/2010 | 11:13 WIB
KOMPAS.com — Saat ini, semakin banyak orang yang ketergantungan terhadap media sosial. Dari sana, Anda bisa melihat seberapa banyak teman yang dimiliki seseorang. Entah angka-angka itu memang menunjukkan benar orang-orang itu adalah teman yang dekat atau main asal add saja. Dari media sosial semacam ini, makin nyata bahwa ada begitu banyak orang yang bisa terhubung dengan Anda hanya dalam hitungan detik. Tinggal klik, dan Anda pun sudah terhubung dengannya. Komunikasi pun terjalin dengan instan. Idenya sih sederhana, menghubungkan yang jauh. Tetapi, menurut para peneliti dan pengamat, hal ini justru bisa membuat seseorang merasa kesepian. Kok bisa?

Leslie Becker-Phelps, PhD, dari WebMD melihat hal ini. Menurutnya, secara fakta, saat ini media sosial sudah berkembang sangat pesat dan semakin kompleks, bahkan lebih kompleks ketimbang interaksi tatap mata. Kekompleksitasan ini bisa merujuk ke dua hal, menjadi hal yang menguntungkan, tetapi bisa juga menjadi problem potensial. Mengirimkan surat elektronik, SMS, dan saling berbalas pesan di Facebook adalah cara termudah untuk saling bertegur sapa. Namun, hal ini sekaligus mempersempit jumlah informasi yang terjadi. Contoh, lewat pesan-pesan elektronik itu, kebanyakan orang bisa mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa harus benar-benar terlibat dalam perbincangan secara langsung. Kita bisa menilai apa yang sedang dirasakan oleh teman kita tanpa harus menatapnya langsung. Ia cukup menuliskan apa yang ia rasa. Namun, di saat yang bersamaan, kita makin lemah dalam menilai intonasi suara teman atau membaca gestur tubuh, atau melihat kejujuran dari tatap mata antar-manusia. Atau, pernahkah Anda menuliskan kata-kata seperti "ha-ha-ha" atau simbol tertawa terbahak-bahak, padahal di kehidupan aslinya, Anda tidak tertawa, tetapi hanya bermuka datar? Hal-hal semacam ini membuktikan bahwa berkomunikasi lewat media elektronik melemahkan kita untuk melatih interaksi tatap muka karena menjadi hal yang "aman" untuk berkomunikasi.

Beda orang, beda pula penggunaan media sosialnya. Beberapa riset menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kepribadian terbuka, outgoing, serta percaya diri terlihat tak terlalu merasa ketergantungan dengan media sosial. Bahkan, meski mereka terlihat aktif menggunakan media sosial, mereka lebih memiliki komunikasi yang lebih kompleks, seperti telepon atau komunikasi tatap muka. Bagi mereka, media sosial hanya membantu hubungan yang sudah terbentuk secara pribadi, atau untuk meluaskan persahabatan yang sudah terbentuk dan solid.

Kebalikannya, menurut Leslie, tipe orang yang insecure cenderung memilih media sosial sebagai bentuk utama komunikasi. Untuk mereka, e-mail memberikan rasa keamanan dari kekhawatiran yang biasa mereka hadapi saat melakukan interaksi tatap muka. Kesulitan berkomunikasi yang biasa mereka hadapi, antara lain, kelemahan dalam kemampuan bersosialisasi, ketakutan berada di tengah keramaian, dan mereka berusaha menghindari ketidaknyamanan tersebut dengan menekan jumlah waktu untuk berkomunikasi langsung. Semakin mereka menghindari situasi sosial, makin mungkin mereka akan meneruskan upaya untuk menghindarinya. Karena itu, mereka akan kekurangan interaksi sosial yang kompleks dan mendalam. Sebagai hasilnya, mereka akan merasa kesepian.

Cara terbaik bagi mereka yang mengalami masalah ini adalah dengan menghadapi masalah ini secara lembut. Mereka yang memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi harus bekerja keras untuk mengasah kemampuan yang diperlukan dalam interaksi langsung. Hal ini bisa dihadapi dengan terapi individual, terapi grup, atau buku pengembangan diri.

Sementara mereka yang sudah memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, tetapi masih merasa takut ada di tengah keramaian, perlu belajar untuk meningkatkan kekayaan dari cara berkomunikasinya. Ini bisa dilakukan dengan sendirinya, tetapi juga mungkin akan butuh bantuan profesional. Dalam kedua kasus di atas ini, saat seseorang mulai terbiasa dan nyaman dalam situasi sosial, mereka akan mulai merasa ada hubungan dengan orang lain, dan tak terlalu merasa kesepian lagi.

Media sosial bukanlah masalah. Itu hanya sebuah alat. Dengan menggunakan media sosial sebagai bagian untuk memperkaya hubungan yang sudah kuat, hubungan yang sudah terbangun dari komunikasi langsung dan interaksi personal bisa menjadi alat yang sangat membantu dan menyenangkan.
female.kompas.com/read/.../14/1113314/media.sosial.bisa.bikin.kesepian - Salinan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar