New Posting

Minggu, 06 Maret 2011

" DAMPAK KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI GAMPONG PUSONG KEC. BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE


DAMPAK KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI GAMPONG PUSONG KEC. BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE

Ratna F. Pradipta[1]

080240003


Abstrak

Komunikasi orang tua yang baik dan benar pastinya membuat si anak bisa mengaplikasikan apa yang ia peroleh di dalam keluarga. Tapi bagaimana bila komunikasi yang dilakukan orang tua tersebut tidak seperti yang diharapkan, pastinya juga membuat si anak tidak nyaman. Banyak aspek yang dapat mempengaruhi si anak, salah satu nya interaksi social di kalangan si anak tersebut.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.Peneliti pun berusaha melihat dampak yang di berikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social anak tersebut.



BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang Masalah

Orang tua sebagai salah satu pendiri sebuah keluarga, alangkah baik nya bisa membuat keutuhan sebuah keluarga tersebut menjadi kokoh.Saat melakukan komunikasi sebisa mungkin dilakukan untuk melihat sejauh mana komunikasi tersebut bisa bejalan dengan baik.

Seorang anak pastinya membutuhkan kedua orang tua yang bisa membimbing anak nya dengan baik, dengan melakukan pendekatan seperti selalu berkomunikasi dengan baik terhadap anak.Dan si anak pun pastinya memiliki hubungan interaksi social yang baik pula di kalangan nya.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.

Komunikasi orang tua yang baik dan benar pastinya membuat si anak bisa mengaplikasikan apa yang ia peroleh di dalam keluarga. Tapi bagaimana bila komunikasi yang dilakukan orang tua tersebut tidak seperti yang diharapkan, pastinya juga membuat si anak tidak nyaman.Banyak aspek yang dapat mempengaruhi si anak, salah satu nya interaksi social di kalangan si anak tersebut.


Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga tidak seperti di pasar.Masyarakat yang melakukan transaksi jual beli di pasar dengan tujuan masing-masing. Mereka melakukan interaksi tanpa melakukan perubahan sama sekali terhadap sikap dan perilaku masin-masing. Karena memang bukan itu tujuan mereka.Antar penjual dan pembeli memiliki kebutuhan yang berbeda.Penjual membutuhkan uang, dan pembeli mungkin membutuhkan sandang pangan.

Karenanya komunikasi mereka tidak bernilai pendidikan.Lain halnya dengan komunikasi dalam keluarga.Karena tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasi yang berlangsung dalam keluarga bernilai pendidikan. Dalam komunikasi itu ada sejumlah norma yang ingin diwariskan oleh orang tua kepada anaknya dengan pengandalan pendidikan.

Norma-norma itu misalnya, norma agama, akhlak, social, etika, estetika dan moral. Komunikasi dalam keluarga jika dilihat dari segi fungsi nya tidak jauh berbeda dengan fungsi komunikasi pada umumnya.Paling tidak 2 fungsi komunikasi dalam keluarga, yaitu fungsi komunikasi social dan cultural.

Fungsi komunikasi sebagai komunikasi social setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagian, dan menghindarkan diri dari ketegangan.Fungsi komunikasi cultural, para sosiolg berpendapat bahwa komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik dan budaya menjadi bagian dari komunikasi.



1.2              Identifikasi Masalah

Berbicara tentang komunikasi keluarga tidak terlepas dari komunikasi antarpribadi, Gunarsa (dalam Mardhiah 2004 : 56 ) menyatakan bahwa : Komunikasi keluarga yang efektif terjadi apabila tidak terdapat kekakuan dan formalitas di dalam keluarga tersebut. Sehingga antara anggota keluarga dapat melakukan komunikasi dari hati ke hati secara dialogis dalam berbagai kondisi dan situasi dengan santai dan penuh keterbukaan serta keakraban.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.Peneliti pun berusaha melihat dampak yang di berikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social anak tersebut.


1.3              Masalah Penelitian

Lingkungan Desa Pusong yang mayoritas masyarakat nya kurang akan pendidikan, membuat segala aktivitas mereka dilakukan tanpa batasan. Dan hidup mereka penuh kekerasan. Didalam ruang lingkup keluarga terjadi hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, seperti saat orang tua berbicara atau berkomunikasi dengan si anak. Kemudian peneliti berusaha mencari dampak dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social si anak.




1.4              Batasan Masalah

Peneliti memiliki batasan masalah untuk melakukan penelitian nya.Yaitu dari komunikasi orang tua sampai ke interaksi sosial di kalangan anak-anak.


1.5              Pertanyaan Masalah

Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka pernyataan masalah dalam penelitian ini adalah:“Sejauh mana dampak komunikasi orang tua terhadap interaksi sosial di kalangan anak-anak”.


1.6              Tujuan Penelitian

1.6.1        Adapun tujuan dari peneliti melakukan penelitian ini adalah:

a.       Untuk mengetahui bagaimana interaksi social si anak dari pengaruh komunikasi orang tua.

b.      Sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

1.7              Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1.7.1.   Secara Teoritis :

a.       Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat menjadi sarana latihan dalam menuangkan gagasan dan pikiran yang diperoleh selama mengikuti studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

b.      Menambah wawasan peneliti ketika melakukan penelitian dan dalam proses belajar mengajar.

c.       Dapat disumbangkan kepada Universitas Malikussaleh, yang berupa hasil penelitian di bidang Komunikasi dan interaksi sosial sehingga memperkaya bahan penelitian di bidang ilmu komunikasi.

1.7.1.   Secara Praktis :

a.       Dapat melatih untuk berkomunikasi dengan baik, sehingga komunikasi yang dilakukan pun berlangsung efektif.

b.      Dapat menjadikan masukan bagi masyarakat, terutama bagi para orang tua dalam berkomunikasi kepada anak di dalam keluarga terhadap interaksi sosial anak.

c.       Untuk dapat menjalin hubungan yang baik dan harmonis antara orang tua dan anak dalam upaya mewujudkan komunikasi yang efektif.


1.8              Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak.[2]

Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa: “ada dampak yang signifikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social pada anak”.

Dalam penelitian ini, hipotesis tersebut dapat diterima ataupun ditolak setelah melakukan pengujian hipotesis pada Bab selanjutnya yaitu Bab III Metode Penelitian.




BAB II

LANDASAN TEORITIS


2.1       Penelitian Terdahulu

            2.1.1    Keluarga

Keluarga dalam sosiologi menurut Alex Thio (1989) “The family a group of related individuals who lives together and cooperate as a unit”. Keluarga merupakan kelompok individual yang ada hubungannya, hidup bersama dan bekerja sama di dalam satu unit. Kehidupan dalam kelompok tersebut bukan secara kebetulan, tetapi di ikat oleh hubungan darah atau perkawinan.Sedangkan menurut Pujo Suwarno (1994) bahwa, keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis, seorang laki-laki dan perempuan yang tidak sendirian atau dengan anak-anak baik anak nya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.( http://mediadiknas.go.id).

Di lingkungan keluarga seorang anak mengenal dan berkomunikasi pertama sekali dan memperoleh hubungan antar pribadi ( antar personal ) dengan anggota keluarga lainnya dan dalam hubungan keluarga tersebut anak juga mempelajari pola-pola tingkah laku dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, dan dengan adanya pola interaksi yang berupa bentuk sosial antar sesama anggota keluarga dan dengan yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain, baik dari segi fisik maupun psikologis yang ada, pada akhirnya akan mempengaruhi pola perilaku anak, selanjutnya dalam keluarga pulalah anak seharusnya mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya, baik secara jasmani maupun rohani. ( Hafez Ibrahim dalam Mardhiah 2004:2).

Komunikasi orang tua yang beragam itu terkadang menjadi suatu hambatan.Hal ini yang membuat peneliti berusaha mencari dampak yang di akibatkan dari komunikasi orang tua tersebut terhadap interaksi sosial.


Anni Kurnia (2006) interaksi social siswa yang tersegegrasi. Hasil penelitian bahwa kompetensi atau persaingan, kerja sama dan pemilihan yang dilakukan oleh informan disertai dengan simbol-simbol. Persaingan atau kompetisi yang digambarkan dalam penelitian ini adalah persaingan dalam hal akademik.Dalam persaingan akademik yang di lakukan oleh siswa-siswa akselerasi yang menjadi informan dalam penelitian ini di tujukan untuk mempertahankan prestasi untuk mempertahankan eksistensinya di kelas. Sedangkan kerja sama yang di gambarkan dalam penelitian ini berupa saling membantu / menolong dalam hal akdemik. Dalam bekerja sama/memberikan bantuan, siswa/siswi akselerasi yang menjadi informan dalam penelitian ini memiliki syarat-syarat tertentu untuk menentukan siapa yang akan diberi bantuan.

Hubungan penelitian yang dilakukan oleh Ani Kurnia adalah sama-sama melakukan penelitian tentang interksi social antara manusia dan tipe penelitian ini adalah deskriptif.Sementara perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ani Kurnia, interaksi sosial antara siswa-siswi dalam mempertahankan eksistensinya.Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah interaksi social dikalanagn anak-anak atau dasar komunikasi yang tidak efektif.

2.2       Teori Relevan

            2.2.1    Teori Rules Theory

Aturan merupakan suatu bentuk cara dengan proses ketentuan, patokan, petunjuk atau perintah yang telah ditetapkan supaya diturut atau suatu tindakan perbuatan yang harus dijalankan. Jika dikaitkan dengan dinamika aturan yang diterapkan oleh orang tua terhadap kalangan anak-anak. Tentu sebagai orang tua sangat menginginkan seorang anak mempunyai sikap disiplin sejak dini.Sebenarnya keinginan itu tidak salah, namun juga tidak dibenarkan.Karena upaya penanaman kedisiplinan pada anak dengan menerapkan berbagai aturan-aturan pada anak yang dilakukan secara stimultasi yang salah dapat berakibat fatal.

Banyak orang tua yang menerapkan aturan-aturan pada anak-anak mereka dengan sistem hukuman, bahwa aturan-aturan tersebut tidak membuat anak disiplin tapi malah mengurangi kewibawaan orang tua dihadapan mereka.

Menurut Arnold Buss, seorang psikolog mengingatkan, bila aturan diberikan terlalu sering kepada anak maka anak tersebut akan merasakan hal ini tidak dapat dihindari, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helpesness). Dengan begitu dapat mengakibatkan anak bersikap minder atau rendah diri.[3]


2.3       Penjelasan Konsep

Konsep adalah unsur penelitian yang terpenting dan merupakan defenisi yang dipakai oleh para peneliti untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial ataupun fenomena alami.Agar tidak menimbulkan kekaburan dan kesalahan di dalam pengertian konsep yang dipergunakan, maka perlu ditegaskan batasan-batasan yang dipergunakan dalam tulisan ini. Adapun defenisi konsep yang dikemukakan disini adalah sebagai berikut:


2.3.1    Pengertian Komunikasi

Ilmu Komunikasi Menurut Carl I Hovlan dalam Efendi (1998:10):Upaya yang sistematis untuk rnerumuskansecara tegas azas-azas penyampaianinformasi serta pembentukanpendapat dan sikap.

Dance dalam Rahmat (1998:3)mengartikankomunikasi yaitu usaha yangmenimbulkan stimulus respon melalui lambang-lambang verbal, ketika lambang-lambang verbal tersebutbertindak sebagai stimuli.


2.3.2    Komunikasi Keluarga

Komunikasi adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga.Tanpa komunikasi sepi lah kehidupan keluarga dari kegitan berbicara, berdialog, bertukar pikiran, dsb.Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota keluarga pun sukar untuk dihindari.Oleh karena itu komunikasi antara suami dan istri, komunikasi antara ayah, ibu, anak, komunikasi antara ayah, anak, komunikasi antara ibu dan anak, dan komunikasi antara anak dan anak, perlu di bangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga.

Berbicara tentang komunikasi keluarga tidak terlepas dari komunikasi antarpribadi, Gunarsa (dalam Mardhiah 2004 : 56 ) menyatakan bahwa : Komunikasi keluarga yang efektif terjadi apabila tidak terdapat kekakuan dan formalitas di dalam keluarga tersebut. Sehingga antara anggota keluarga dapat melakukan komunikasi dari hati ke hati secara dialogis dalam berbagai kondisi dan situasi dengan santai dan penuh keterbukaan serta keakraban.

2.3.3    Interaksi sosial pada hakikat nya merupakan proses sosial.Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.

Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :

1.      Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.

2.      Adanya Komunikasi, yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut[4].


2.4       Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah suatu hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Menurut Nawawi (2005:45), kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut :


Keluarga ( Orang Tua )             Komunikasi yang terjadi                        Anak

                                                                                  

Lingkungan                                                                               interaksi Sosial


Bertolak pada deskripsi kerangka berfikir di atas, dapat di terangkan bahwa komunikasi antara orang tua sangat berpengaruh pada anak, dan terhadap interaksi social nya di lingkungannya.


2.5       Definisi Operasional

Definisi operasional ialah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Proses pengubahan defenisi konseptual yang lebih menekankan kriteria hipotik menjadi defenisi operasional disebut dengan operasionalisasi variabel penelitian[5]. Dengan demikian defenisi operasional didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain.

Adapun defenisi operasional yang diuraikan adalah sebagai berikut:


a.       (X) Variabel Bebas atau variabel pengaruh (independent variable) adalah variabel penyebab yang diduga, terjadi lebih dahulu, Interaksi Sosial Pada Anak, yang mereka lakukan adalah:

1.      Mudah emosi dan cepat marah

2.      Menimbulkan sifat cenderung pendiam

3.      permusuhan


b.       (Y) Variabel Terikat atau variabel terpengaruh (dependent variable) adalah variabel akibat yang diperkirakan terjadi kemudian.komunikasi orang tua, di teliti dari :

1.      Adanya keluarga yang memiliki anak usia 10-12 tahun

2.      Tingkat pendidikan orang tua




















BAB III

METODE PENELITIAN

3.1       Lokasi dan Waktu

            3.1.1    Lokasi

Peneliti mengambil lokasi atau studi kasus di Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

            3.1.2    Waktu

                        Peneliti mengambil waktu dari 1 Nov 2010 – 31 Jan 2011.

3.2       Pendekatan Penelitian

            Peneliti menggunakan Metode Penelitian secara Kuantitatif.

3.3       Populasi dan Sampel

            3.3.1    Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[6].Adapun populasi dalam penelitian ini adalahMasyarakat Desa Pusong yang sudah berkeluarga.

          



3.3.2    Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.Untuk menentukan jumlah sample dalam penelitian ini, penulis menggunakan rumus Taro Yamane, yaitu:



                                                                                       N

n          =

                        N.  + 1  …….[7]

          

Keterangan:

n= Jumlah Sampel

N= Jumlah populasi

d2= Presisi (tingkat kesalahan penarikan sample ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%).

Di Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe dimana peneliti melakukan penelitian untuk jumlah populasi masyarakat yang telah berkeluarga ada 500 KK.



Dari rumus diatas, maka jumlah sampel yang akan diambil adalah:

n=        500

            (500).(0,01) + 1

n=             500

            5          +          1

n=        500

            6

n=        83 KK

Dari persamaan rumus diatas, maka dihasilkan jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah sejumlah 83 KK.

3.4       Sumber Data

            3.4.1    Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh di lapangan melalui responden yaitu dengan cara mengajukan daftar pertanyaan secara tertulis kepada ( sampel ). Selanjutnya questioner disusun berdasarkan urutan yang diperlukan.Dalam penelitian ini, masyarakat yang sudah berkeluarga, dan bagaimana komunikasi yang dilakukan menjadi data primer peneliti.


          


3.4.2    Data Sekunder

Data sekunder yaitu data penunjang dalam penelitian ini yaitu melalui observasi dan wawancara yang diperoleh dengan bertanya langsung kepada ( sampel ). Disamping observasi dan wawancara peneliti menggunakan studi kepustakaan yaitu pengumpulan data dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.

3.5       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka digunakan 3 teknik pengumpulan data sebagai berikut:

3.5.1    Observasi

Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan pengamatan langsung ke lapangan penelitian, sehingga bisa diperoleh gambaran mengenai objek dan sujek penelitian sebenarnya.

3.5.2    Angket

Angket adalah cara pengumpulan data berdasarkan pernyataan tertulis yang diberikan responden untuk diisi dan dikembalikan lagi kepada peneliti.

3.5.3    Dokumentasi

Dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang sifat nya tertulis, seperti keadaan umum lokasi penelitian dan lain-lain sebagai data sekunder yang diperlukan.


3.6       Teknik Analisa Data

Dalam penelitian ini, seluruh data ataupun informasi yang sudah terkumpul akan disusun sedemikian rupa secara sederhana dan sistematis yang lalu kemudian diuraikandengan cara menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam proses pengumpulan data tersebut. Setelah data-data dan informasi tersebut terkumpul dan disusun dengan teratur, maka akan dilakukan analisis data. Untuk mengetahui apakah ada dampak yang berpengaruh dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social pada anak 10-12 tahun. Kita memakai rumus Product Human:

            r =                 N  – ( ) . (  )

                         ) . ( N


Dari setiap alternatif jawaban (a, b, c) akan diberikan skor nilai yang berbeda-beda, yaitu:


Untuk jawaban alternatif a diberi nilai 3

Untuk jawaban alternatif b diberi nilai 2

Untuk jawaban alternatif c diberi nilai 1






3.7       Pengujian Hipotesis

            Untuk menguji hipotesis menggunakan kriteria sebagai berikut :

            Jika t hitung lebih besar dari t table maka Ho diterima.

            Jika t hitung lebih kecil dari t table maka Ho di tolak dan Ha diterima.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka keadaan hipotesis dalam penelitian ini akan dapat diketahui bahwa akan diterima atau di tolak.


3.8       Jadwal Penelitian

Penelitian dilakukan selama 3 ( Tiga) bulan, dari 1 November 2010 – 31 Januari 2011 dengan tahapan sebagai berikut :

3.8.1    Tahap Persiapan                    1 Nov. 2010 – 30 Nov 2010

            - Pembuatan alat ukur               1 – 15 Nov 2010

            - Penentuan Lokasi dan

            perbanyakan angket                  16 – 30 Nov 2010


3.8.2    Tahap Pelaksanaan               1 – 31 Des 2010

            - merekrut tenaga                     1 – 7 Des 2010

            - menyebarkan angket              8 – 31 Des 2010


3.8.3    Tahap Analisis Data              1 – 31 Jan 2011

            - Data Coding                          1 – 7 Jan 2011

            - Data Processing                     1 – 15 Jan 2011

            - Data Reporting                       16 – 31 Jan 2011
















Daftar Pustaka


Rahmat Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 1995)

Sugiyono, “Statistika Untuk Penelitian”, (Bandung: Alfabeta, 2006)

Saifuddin Azwar, Metode Pnelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)

http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/proses-sosial-dan-interaksi

Buss Arnold, 2008, Dampak Aturan Terhadap Kalangan Anak-Anak, Surabaya: PT Grafindo


Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002)



[1] Mahasiswi Univ. Malikussaleh, Jur Ilmu Komunikasi Fak. ISIP

[2] Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002), hal. 219.

[3] Buss Arnold, 2008, Dampak Aturan Terhadap Kalangan Anak-Anak, Surabaya: PT Grafindo

[4]http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/proses-sosial-dan-interaksi

[5] Saifuddin Azwar, Metode Pnelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 74.

[6] Sugiyono, “Statistika Untuk Penelitian”, (Bandung: Alfabeta, 2006) hal. 55

[7] Rahmat Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 1995), hal. 82. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar