New Posting

Minggu, 06 Maret 2011

Belajar Menulis Feature

Nafkah Tetap Halal Meskipun Kedua Tangan Tak Sempurna

Waktu menunjukkan pukul 22.00 malam Sabtu (26/2), Zainal Abidin (45) memasuki lorong purnawirawan Simpang IV berada tepat di kawasan rumah nya. Pria ini pun tiba di rumah setelah seharian mencari nafkah sebagai pencari kotak telur bekas. Wajahnya yang kusam, dan tampak lelah pun selalu terlihat ketika setibanya dirumah.
Bukan lah Zainal namanya jika ia hanya diam dirumah dengan mengharap belas kasihan orang lain. Kedua tangan yang tak sempurna, tidak menghentikan niat nya dalam mencari nafkah yang halal bagi keluarga nya sendiri. Tangan sebelah kanan nya tidak ada, tepat nya dari telapak tangan sampai ke sikunya. Walaupun keadaan untuk mencari nafkah tidak berpihak kepadanya, niat untuk bermalas-malasan tidak pernah muncul di benak nya.
Setiap hari mulai dari pukul 6.30 pagi, dengan becak mesin yang sudah di modifikasi, seperti gas penyetir nya di pindahkan ke setir sebelah kiri, dan tali yang diikat disebelah kanan untuk penyeimbangnya yang digunakan dengan kaki kanan nya. Pria ini telah meninggalkan rumah nya untuk pergi mencari kotak telur bekas dari satu kedai ke kedai lainnya, diseputaran kota Lhokseumawe, terkadang Kota Bireuen pun sampai ia singgahi. Yang kemudian kotak telur bekas tersebut akan dijualnya kembali kepada distributor kotak telur bekas.
Beban yang dipikul Zainal tidak lah sedikit. Ia harus menafkahi ke lima anak nya hasil dari pernikahannya dengan Kasiah (47). Istri nya pun cacat di bagian kakinya, kaki kanannya pincang sehingga menyulitkannya untuk berjalan.
Ketidaksempurnaan tidak membuat putra putri Zainal putus sekolah. Putri pertama Zainal kini telah mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Universitas Malikussaleh, sedangkan adik-adik nya masih menempuh sekolah SMA dan SMP.
“Alhamdulillah, saya masih bisa mencari nafkah yang halal bagi keluarga saya, anak-anak saya nanti semoga bisa menjadi anak-anak yang berguna bagi dirinya sendiri dan juga orang lain,” ujar Zainal. Pendapatan yang tidak menentu, sering membuat Zainal kebingungan. Hasil yang ia dapatkan terkadang Rp 80.000, terkadang juga kurang dari itu.
“Mencari nafkah seperti ini memang melelahkan, karena kondisi saya pun tidak sempurna. Tetapi kalau kita sabar dan tabah, serta selalu tawakal kepada Allah, pastinya rezeki pun akan Allah berikan. Meskipun sedikit, tapi nafkah yang saya berikan halal. Dan tidak dengan cara meminta-minta,” ucap Zainal sembari tersenyum walaupun lelah diwajahnya tak terbendung.


" DAMPAK KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI GAMPONG PUSONG KEC. BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE


DAMPAK KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI GAMPONG PUSONG KEC. BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE

Ratna F. Pradipta[1]

080240003


Abstrak

Komunikasi orang tua yang baik dan benar pastinya membuat si anak bisa mengaplikasikan apa yang ia peroleh di dalam keluarga. Tapi bagaimana bila komunikasi yang dilakukan orang tua tersebut tidak seperti yang diharapkan, pastinya juga membuat si anak tidak nyaman. Banyak aspek yang dapat mempengaruhi si anak, salah satu nya interaksi social di kalangan si anak tersebut.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.Peneliti pun berusaha melihat dampak yang di berikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social anak tersebut.



BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang Masalah

Orang tua sebagai salah satu pendiri sebuah keluarga, alangkah baik nya bisa membuat keutuhan sebuah keluarga tersebut menjadi kokoh.Saat melakukan komunikasi sebisa mungkin dilakukan untuk melihat sejauh mana komunikasi tersebut bisa bejalan dengan baik.

Seorang anak pastinya membutuhkan kedua orang tua yang bisa membimbing anak nya dengan baik, dengan melakukan pendekatan seperti selalu berkomunikasi dengan baik terhadap anak.Dan si anak pun pastinya memiliki hubungan interaksi social yang baik pula di kalangan nya.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.

Komunikasi orang tua yang baik dan benar pastinya membuat si anak bisa mengaplikasikan apa yang ia peroleh di dalam keluarga. Tapi bagaimana bila komunikasi yang dilakukan orang tua tersebut tidak seperti yang diharapkan, pastinya juga membuat si anak tidak nyaman.Banyak aspek yang dapat mempengaruhi si anak, salah satu nya interaksi social di kalangan si anak tersebut.


Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga tidak seperti di pasar.Masyarakat yang melakukan transaksi jual beli di pasar dengan tujuan masing-masing. Mereka melakukan interaksi tanpa melakukan perubahan sama sekali terhadap sikap dan perilaku masin-masing. Karena memang bukan itu tujuan mereka.Antar penjual dan pembeli memiliki kebutuhan yang berbeda.Penjual membutuhkan uang, dan pembeli mungkin membutuhkan sandang pangan.

Karenanya komunikasi mereka tidak bernilai pendidikan.Lain halnya dengan komunikasi dalam keluarga.Karena tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasi yang berlangsung dalam keluarga bernilai pendidikan. Dalam komunikasi itu ada sejumlah norma yang ingin diwariskan oleh orang tua kepada anaknya dengan pengandalan pendidikan.

Norma-norma itu misalnya, norma agama, akhlak, social, etika, estetika dan moral. Komunikasi dalam keluarga jika dilihat dari segi fungsi nya tidak jauh berbeda dengan fungsi komunikasi pada umumnya.Paling tidak 2 fungsi komunikasi dalam keluarga, yaitu fungsi komunikasi social dan cultural.

Fungsi komunikasi sebagai komunikasi social setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagian, dan menghindarkan diri dari ketegangan.Fungsi komunikasi cultural, para sosiolg berpendapat bahwa komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik dan budaya menjadi bagian dari komunikasi.



1.2              Identifikasi Masalah

Berbicara tentang komunikasi keluarga tidak terlepas dari komunikasi antarpribadi, Gunarsa (dalam Mardhiah 2004 : 56 ) menyatakan bahwa : Komunikasi keluarga yang efektif terjadi apabila tidak terdapat kekakuan dan formalitas di dalam keluarga tersebut. Sehingga antara anggota keluarga dapat melakukan komunikasi dari hati ke hati secara dialogis dalam berbagai kondisi dan situasi dengan santai dan penuh keterbukaan serta keakraban.

Kita ketahui suatu tatanan social masyarakat itu pasti nya berbeda menurut tempat tinggal nya.Tidak terkecuali di Gampong Pusong Kec Banda Sakti Kota Lhokseumawe.Tatanan social masyarakat Pusong masih sangat rentan dengan budaya keras daerah pesisir.Hal ini membuat pola komunikasi di keluarga tersebut seringkali menimbulkan masalah terhadap si anak.Peneliti pun berusaha melihat dampak yang di berikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social anak tersebut.


1.3              Masalah Penelitian

Lingkungan Desa Pusong yang mayoritas masyarakat nya kurang akan pendidikan, membuat segala aktivitas mereka dilakukan tanpa batasan. Dan hidup mereka penuh kekerasan. Didalam ruang lingkup keluarga terjadi hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, seperti saat orang tua berbicara atau berkomunikasi dengan si anak. Kemudian peneliti berusaha mencari dampak dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social si anak.




1.4              Batasan Masalah

Peneliti memiliki batasan masalah untuk melakukan penelitian nya.Yaitu dari komunikasi orang tua sampai ke interaksi sosial di kalangan anak-anak.


1.5              Pertanyaan Masalah

Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka pernyataan masalah dalam penelitian ini adalah:“Sejauh mana dampak komunikasi orang tua terhadap interaksi sosial di kalangan anak-anak”.


1.6              Tujuan Penelitian

1.6.1        Adapun tujuan dari peneliti melakukan penelitian ini adalah:

a.       Untuk mengetahui bagaimana interaksi social si anak dari pengaruh komunikasi orang tua.

b.      Sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

1.7              Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1.7.1.   Secara Teoritis :

a.       Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat menjadi sarana latihan dalam menuangkan gagasan dan pikiran yang diperoleh selama mengikuti studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

b.      Menambah wawasan peneliti ketika melakukan penelitian dan dalam proses belajar mengajar.

c.       Dapat disumbangkan kepada Universitas Malikussaleh, yang berupa hasil penelitian di bidang Komunikasi dan interaksi sosial sehingga memperkaya bahan penelitian di bidang ilmu komunikasi.

1.7.1.   Secara Praktis :

a.       Dapat melatih untuk berkomunikasi dengan baik, sehingga komunikasi yang dilakukan pun berlangsung efektif.

b.      Dapat menjadikan masukan bagi masyarakat, terutama bagi para orang tua dalam berkomunikasi kepada anak di dalam keluarga terhadap interaksi sosial anak.

c.       Untuk dapat menjalin hubungan yang baik dan harmonis antara orang tua dan anak dalam upaya mewujudkan komunikasi yang efektif.


1.8              Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak.[2]

Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa: “ada dampak yang signifikan dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social pada anak”.

Dalam penelitian ini, hipotesis tersebut dapat diterima ataupun ditolak setelah melakukan pengujian hipotesis pada Bab selanjutnya yaitu Bab III Metode Penelitian.




BAB II

LANDASAN TEORITIS


2.1       Penelitian Terdahulu

            2.1.1    Keluarga

Keluarga dalam sosiologi menurut Alex Thio (1989) “The family a group of related individuals who lives together and cooperate as a unit”. Keluarga merupakan kelompok individual yang ada hubungannya, hidup bersama dan bekerja sama di dalam satu unit. Kehidupan dalam kelompok tersebut bukan secara kebetulan, tetapi di ikat oleh hubungan darah atau perkawinan.Sedangkan menurut Pujo Suwarno (1994) bahwa, keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis, seorang laki-laki dan perempuan yang tidak sendirian atau dengan anak-anak baik anak nya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.( http://mediadiknas.go.id).

Di lingkungan keluarga seorang anak mengenal dan berkomunikasi pertama sekali dan memperoleh hubungan antar pribadi ( antar personal ) dengan anggota keluarga lainnya dan dalam hubungan keluarga tersebut anak juga mempelajari pola-pola tingkah laku dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, dan dengan adanya pola interaksi yang berupa bentuk sosial antar sesama anggota keluarga dan dengan yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain, baik dari segi fisik maupun psikologis yang ada, pada akhirnya akan mempengaruhi pola perilaku anak, selanjutnya dalam keluarga pulalah anak seharusnya mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya, baik secara jasmani maupun rohani. ( Hafez Ibrahim dalam Mardhiah 2004:2).

Komunikasi orang tua yang beragam itu terkadang menjadi suatu hambatan.Hal ini yang membuat peneliti berusaha mencari dampak yang di akibatkan dari komunikasi orang tua tersebut terhadap interaksi sosial.


Anni Kurnia (2006) interaksi social siswa yang tersegegrasi. Hasil penelitian bahwa kompetensi atau persaingan, kerja sama dan pemilihan yang dilakukan oleh informan disertai dengan simbol-simbol. Persaingan atau kompetisi yang digambarkan dalam penelitian ini adalah persaingan dalam hal akademik.Dalam persaingan akademik yang di lakukan oleh siswa-siswa akselerasi yang menjadi informan dalam penelitian ini di tujukan untuk mempertahankan prestasi untuk mempertahankan eksistensinya di kelas. Sedangkan kerja sama yang di gambarkan dalam penelitian ini berupa saling membantu / menolong dalam hal akdemik. Dalam bekerja sama/memberikan bantuan, siswa/siswi akselerasi yang menjadi informan dalam penelitian ini memiliki syarat-syarat tertentu untuk menentukan siapa yang akan diberi bantuan.

Hubungan penelitian yang dilakukan oleh Ani Kurnia adalah sama-sama melakukan penelitian tentang interksi social antara manusia dan tipe penelitian ini adalah deskriptif.Sementara perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ani Kurnia, interaksi sosial antara siswa-siswi dalam mempertahankan eksistensinya.Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah interaksi social dikalanagn anak-anak atau dasar komunikasi yang tidak efektif.

2.2       Teori Relevan

            2.2.1    Teori Rules Theory

Aturan merupakan suatu bentuk cara dengan proses ketentuan, patokan, petunjuk atau perintah yang telah ditetapkan supaya diturut atau suatu tindakan perbuatan yang harus dijalankan. Jika dikaitkan dengan dinamika aturan yang diterapkan oleh orang tua terhadap kalangan anak-anak. Tentu sebagai orang tua sangat menginginkan seorang anak mempunyai sikap disiplin sejak dini.Sebenarnya keinginan itu tidak salah, namun juga tidak dibenarkan.Karena upaya penanaman kedisiplinan pada anak dengan menerapkan berbagai aturan-aturan pada anak yang dilakukan secara stimultasi yang salah dapat berakibat fatal.

Banyak orang tua yang menerapkan aturan-aturan pada anak-anak mereka dengan sistem hukuman, bahwa aturan-aturan tersebut tidak membuat anak disiplin tapi malah mengurangi kewibawaan orang tua dihadapan mereka.

Menurut Arnold Buss, seorang psikolog mengingatkan, bila aturan diberikan terlalu sering kepada anak maka anak tersebut akan merasakan hal ini tidak dapat dihindari, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helpesness). Dengan begitu dapat mengakibatkan anak bersikap minder atau rendah diri.[3]


2.3       Penjelasan Konsep

Konsep adalah unsur penelitian yang terpenting dan merupakan defenisi yang dipakai oleh para peneliti untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial ataupun fenomena alami.Agar tidak menimbulkan kekaburan dan kesalahan di dalam pengertian konsep yang dipergunakan, maka perlu ditegaskan batasan-batasan yang dipergunakan dalam tulisan ini. Adapun defenisi konsep yang dikemukakan disini adalah sebagai berikut:


2.3.1    Pengertian Komunikasi

Ilmu Komunikasi Menurut Carl I Hovlan dalam Efendi (1998:10):Upaya yang sistematis untuk rnerumuskansecara tegas azas-azas penyampaianinformasi serta pembentukanpendapat dan sikap.

Dance dalam Rahmat (1998:3)mengartikankomunikasi yaitu usaha yangmenimbulkan stimulus respon melalui lambang-lambang verbal, ketika lambang-lambang verbal tersebutbertindak sebagai stimuli.


2.3.2    Komunikasi Keluarga

Komunikasi adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga.Tanpa komunikasi sepi lah kehidupan keluarga dari kegitan berbicara, berdialog, bertukar pikiran, dsb.Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota keluarga pun sukar untuk dihindari.Oleh karena itu komunikasi antara suami dan istri, komunikasi antara ayah, ibu, anak, komunikasi antara ayah, anak, komunikasi antara ibu dan anak, dan komunikasi antara anak dan anak, perlu di bangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga.

Berbicara tentang komunikasi keluarga tidak terlepas dari komunikasi antarpribadi, Gunarsa (dalam Mardhiah 2004 : 56 ) menyatakan bahwa : Komunikasi keluarga yang efektif terjadi apabila tidak terdapat kekakuan dan formalitas di dalam keluarga tersebut. Sehingga antara anggota keluarga dapat melakukan komunikasi dari hati ke hati secara dialogis dalam berbagai kondisi dan situasi dengan santai dan penuh keterbukaan serta keakraban.

2.3.3    Interaksi sosial pada hakikat nya merupakan proses sosial.Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.

Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :

1.      Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.

2.      Adanya Komunikasi, yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut[4].


2.4       Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah suatu hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Menurut Nawawi (2005:45), kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut :


Keluarga ( Orang Tua )             Komunikasi yang terjadi                        Anak

                                                                                  

Lingkungan                                                                               interaksi Sosial


Bertolak pada deskripsi kerangka berfikir di atas, dapat di terangkan bahwa komunikasi antara orang tua sangat berpengaruh pada anak, dan terhadap interaksi social nya di lingkungannya.


2.5       Definisi Operasional

Definisi operasional ialah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Proses pengubahan defenisi konseptual yang lebih menekankan kriteria hipotik menjadi defenisi operasional disebut dengan operasionalisasi variabel penelitian[5]. Dengan demikian defenisi operasional didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain.

Adapun defenisi operasional yang diuraikan adalah sebagai berikut:


a.       (X) Variabel Bebas atau variabel pengaruh (independent variable) adalah variabel penyebab yang diduga, terjadi lebih dahulu, Interaksi Sosial Pada Anak, yang mereka lakukan adalah:

1.      Mudah emosi dan cepat marah

2.      Menimbulkan sifat cenderung pendiam

3.      permusuhan


b.       (Y) Variabel Terikat atau variabel terpengaruh (dependent variable) adalah variabel akibat yang diperkirakan terjadi kemudian.komunikasi orang tua, di teliti dari :

1.      Adanya keluarga yang memiliki anak usia 10-12 tahun

2.      Tingkat pendidikan orang tua




















BAB III

METODE PENELITIAN

3.1       Lokasi dan Waktu

            3.1.1    Lokasi

Peneliti mengambil lokasi atau studi kasus di Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

            3.1.2    Waktu

                        Peneliti mengambil waktu dari 1 Nov 2010 – 31 Jan 2011.

3.2       Pendekatan Penelitian

            Peneliti menggunakan Metode Penelitian secara Kuantitatif.

3.3       Populasi dan Sampel

            3.3.1    Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[6].Adapun populasi dalam penelitian ini adalahMasyarakat Desa Pusong yang sudah berkeluarga.

          



3.3.2    Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.Untuk menentukan jumlah sample dalam penelitian ini, penulis menggunakan rumus Taro Yamane, yaitu:



                                                                                       N

n          =

                        N.  + 1  …….[7]

          

Keterangan:

n= Jumlah Sampel

N= Jumlah populasi

d2= Presisi (tingkat kesalahan penarikan sample ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%).

Di Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe dimana peneliti melakukan penelitian untuk jumlah populasi masyarakat yang telah berkeluarga ada 500 KK.



Dari rumus diatas, maka jumlah sampel yang akan diambil adalah:

n=        500

            (500).(0,01) + 1

n=             500

            5          +          1

n=        500

            6

n=        83 KK

Dari persamaan rumus diatas, maka dihasilkan jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah sejumlah 83 KK.

3.4       Sumber Data

            3.4.1    Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh di lapangan melalui responden yaitu dengan cara mengajukan daftar pertanyaan secara tertulis kepada ( sampel ). Selanjutnya questioner disusun berdasarkan urutan yang diperlukan.Dalam penelitian ini, masyarakat yang sudah berkeluarga, dan bagaimana komunikasi yang dilakukan menjadi data primer peneliti.


          


3.4.2    Data Sekunder

Data sekunder yaitu data penunjang dalam penelitian ini yaitu melalui observasi dan wawancara yang diperoleh dengan bertanya langsung kepada ( sampel ). Disamping observasi dan wawancara peneliti menggunakan studi kepustakaan yaitu pengumpulan data dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.

3.5       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka digunakan 3 teknik pengumpulan data sebagai berikut:

3.5.1    Observasi

Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan pengamatan langsung ke lapangan penelitian, sehingga bisa diperoleh gambaran mengenai objek dan sujek penelitian sebenarnya.

3.5.2    Angket

Angket adalah cara pengumpulan data berdasarkan pernyataan tertulis yang diberikan responden untuk diisi dan dikembalikan lagi kepada peneliti.

3.5.3    Dokumentasi

Dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang sifat nya tertulis, seperti keadaan umum lokasi penelitian dan lain-lain sebagai data sekunder yang diperlukan.


3.6       Teknik Analisa Data

Dalam penelitian ini, seluruh data ataupun informasi yang sudah terkumpul akan disusun sedemikian rupa secara sederhana dan sistematis yang lalu kemudian diuraikandengan cara menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam proses pengumpulan data tersebut. Setelah data-data dan informasi tersebut terkumpul dan disusun dengan teratur, maka akan dilakukan analisis data. Untuk mengetahui apakah ada dampak yang berpengaruh dari komunikasi orang tua terhadap interaksi social pada anak 10-12 tahun. Kita memakai rumus Product Human:

            r =                 N  – ( ) . (  )

                         ) . ( N


Dari setiap alternatif jawaban (a, b, c) akan diberikan skor nilai yang berbeda-beda, yaitu:


Untuk jawaban alternatif a diberi nilai 3

Untuk jawaban alternatif b diberi nilai 2

Untuk jawaban alternatif c diberi nilai 1






3.7       Pengujian Hipotesis

            Untuk menguji hipotesis menggunakan kriteria sebagai berikut :

            Jika t hitung lebih besar dari t table maka Ho diterima.

            Jika t hitung lebih kecil dari t table maka Ho di tolak dan Ha diterima.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka keadaan hipotesis dalam penelitian ini akan dapat diketahui bahwa akan diterima atau di tolak.


3.8       Jadwal Penelitian

Penelitian dilakukan selama 3 ( Tiga) bulan, dari 1 November 2010 – 31 Januari 2011 dengan tahapan sebagai berikut :

3.8.1    Tahap Persiapan                    1 Nov. 2010 – 30 Nov 2010

            - Pembuatan alat ukur               1 – 15 Nov 2010

            - Penentuan Lokasi dan

            perbanyakan angket                  16 – 30 Nov 2010


3.8.2    Tahap Pelaksanaan               1 – 31 Des 2010

            - merekrut tenaga                     1 – 7 Des 2010

            - menyebarkan angket              8 – 31 Des 2010


3.8.3    Tahap Analisis Data              1 – 31 Jan 2011

            - Data Coding                          1 – 7 Jan 2011

            - Data Processing                     1 – 15 Jan 2011

            - Data Reporting                       16 – 31 Jan 2011
















Daftar Pustaka


Rahmat Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 1995)

Sugiyono, “Statistika Untuk Penelitian”, (Bandung: Alfabeta, 2006)

Saifuddin Azwar, Metode Pnelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)

http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/proses-sosial-dan-interaksi

Buss Arnold, 2008, Dampak Aturan Terhadap Kalangan Anak-Anak, Surabaya: PT Grafindo


Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002)



[1] Mahasiswi Univ. Malikussaleh, Jur Ilmu Komunikasi Fak. ISIP

[2] Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002), hal. 219.

[3] Buss Arnold, 2008, Dampak Aturan Terhadap Kalangan Anak-Anak, Surabaya: PT Grafindo

[4]http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/proses-sosial-dan-interaksi

[5] Saifuddin Azwar, Metode Pnelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 74.

[6] Sugiyono, “Statistika Untuk Penelitian”, (Bandung: Alfabeta, 2006) hal. 55

[7] Rahmat Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 1995), hal. 82. 

Tugas Kuliah Komunikasi Massa " Pornografi Efek Dari Liberalisasi Media "


Pornografi Efek Dari Liberalisasi Media


Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar dan bersifat esensial adalah kebutuhan akan informasi. Informasi ini memberikan banyak makna bagi manusia, selain dapat mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya, juga dapat mencerdaskan kehidupan, memperluas cakrawala pandangan, dan dapat meningkatkan kedudukannya di tengah masyarakat.

Salah satu unsur penting yang berperan dalam penyebaran informasi adalah pers. Pers dapat menyampaikan informasi kepada sejumlah besar khalayak dalam waktu yang singkat. Pers yang berfungsi sebagai penyebar informasi dapat berperan dalam menyampaikan kebijaksanaan dan program pembangunan kepada masyarakat melalui media. Di samping itu masyarakat juga dapat menggunakan pers sebagai penyalur aspirasi dan pendapat serta kritik (control social).

Media mengemban tugas mulia yakni mendidik masyarakat. Namun realitas berkata lain. Media telah terseret dalam struktur ekonomi dan logika pasar (liberalisasi). Ia nyaris telah sepenuhnya menjadi salah satu alat produksi si pemodal atas kepentingan pasar. Keuntungan dan pragmatisme ekonomi dan pasar membuat media nyaris tak mampu berkelit untuk menunjukkan idealismenya. Gilirannya, keberhasilan media diukur hanya dengan keberhasilannya menghasilkan keuntungan, yang berefek dengan vulgar nya memberikan sajian informasi melalui media yang cenderung pornografi. Pornografi dapat terjadi pada tiga wilayah isi media. Pertama gambar yang menyajikan perempuan yang berpakaian seronok, lokasi pengambilan gambar yang mendukung seperti tempat pelacuran, kamar pribadi, pose perempuan yang menantang birahi dan fokus pengambilan gambar pada alat kelamin atau kemaluan. Kedua pada kata-kata yang dipakai untuk mendeskripsikan proses adegan pornografi. Ketiga suara, ini terutama untuk media radio dan tv, misalnya rintihan kenikmatan, teriakan dan jenis-jenis suara yang menimbulkan efek imajinasi seksual tertentu.

Etika komunikasi juga dihadapkan polemic seputar pornografi yang juga disajikan oleh media. Ada desakan perlu perlindungan warga dari kecenderungan pornografi. Ada pertimbangan paling minimal yang dapat diambil oleh media. Namun demikian andai hukum dibuat sebagai aturan agar pornografi dapat ditangkal, yang paling menjadi korban adalah perempuan. Etika komunikasi sangat perlu mempertimbangkan multikulturalisme.

Kepolisian RI menyatakan bahwa pembuat dan penyebar tayangan pornografi dapat diproses pidana dengan tuduhan melanggar Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Di samping itu, pelanggaran sosial pornografi dan kecabulan sesungguhnya telah diatur dalam KUHP pasal 282 sebagai bentuk pelanggaran kesusilaan yang berbunyi: mempertunjukkan atau menempelkan di depan umum, tulisan, gambar yang diketahui isinya melanggar kesusilaan diancam hukuman penjara maksimal 18 bulan. Dalam kode etik wartawan indonesia disebutkan bahwa wartawan indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan pornografi.


Secara garis besar membagi wacana porno ke dalam beberapa bentuk porno, yaitu pornografi, pornoteks, pornosuara, dan pornoaksi. Dalam kasus tertentu semua kategori ini dapat menjadi sajian dalam satu media, sehingga konsepnya menjadi pornomedia. Pornografi adalah gambar-gambar porno yang dapat diperoleh dalam bentuk foto dan gambar video. Pornoteks adalah karya pencabulan yang mengangkat cerita berbagai versi hubungan seksual dalam bentuk narasi, testimonial atau pengalaman pribadi secara detail atau vulgar, sehingga pembaca merasa ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan-hubungan seks itu.

Pornosuara yaitu, suara atau tuturan dan kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang yang langsung atau tidak langsung, bahkan secara halus atau vulgar tentang objek seksual atau aktivitas seksual, sedang pornoaksi adalah suatu penggambaran, aksi gerakan, lenggokan liukan tubuh yang tidak disengaja atau sengaja untuk memancing bangkitnya nafsu seksual. Pornoaksi pada awalnya adalah aksi-aksi objek seksual yang dipertontonkan secara langsung dari seseorang kepada orang lain, sehingga menimbulkan histeria seksual di masyarakat. Dalam konteks media massa, pornografi, pornoteks, pornosuara dan pornoaksi menjadi bagian yang saling berhubungan dengan karakter media yang menyiarkan porno itu. Namun dalam banyak kasus, pornografi (cetak) memiliki kedekatan dengan pornoteks karena gambar dalam teks dapat dilakukan dalam satu media cetak.

Media-media yang beredar saat ini banyak memanfaatkan pornografi dan pornoteks sebagai nilai jualnya akibat arus liberalisasi. Sebagai contoh pada kasus-kasus di atas yang berkaitan dengan norma, moral agama serta norma masyarakat sehingga menimbulkan west modernisme di kalangan masyarakat. Hal-hal inilah yang perlu diindahkan oleh para pers agar kebebasan pers menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Media sosial Tugas MK CYberMedia


Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat.
Jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama akan suatu hal.
id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial - Salinan



TURUNNYA sang tiran Hosni Mobarak dari jabatan presiden Mesir tidak lepas dari peran media sosial. Para pengamat menilai saat ini masyarakat lebih sadar akan kekuatan media sosial dalam menghadapi krisis nasional.

Pemilu di Iran pada 2009 yang memicu kemarahan para penguasa di sana lantaran sebagian masyarakat menyebarkan gerakan politik secara diam-diam melalui jejaring sosial Twitter. Kemarahan pemerintah yang berkuasa saat itu akhirnya memicu pemblokiran seluruh jaringan internet di Irak.

Kekuatan media sosial juga telah membuka mata dunia saat terjadi gempa bumi di Haiti dan berlanjut pada masalah krisis kesehatan, akibat wabah kolera.

Dan kini jatuhnya kekuasaan Hosni Mubarak telah disaksikan jutaan orang di dunia lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook. Ketika Mubarak bersikukuh tidak bersedia turun, para demonstran tetap bergerilya melakukan aksi bawah tanah melalui jejaring sosial. Bahkan Google ambil peran untuk ikut memberikan bantuan menjembatani suara masyarakat Mesir ke dunia, lewat Twitter, Facebook, dan YouTube.

Baru-baru ini Palang Merah Amerika dan Yayasan Manajemen Kongres telah melakukan penelitian seberapa besar peran media sosial terhadap situasi darurat maupun krisis nasional.

Hampir separuh responden dalam survei baru-baru ini, memilih menggunakan media sosial dalam memberitahu kerabat dan teman-teman saat terjadi bencana atau krisis sosial. Para responden menyebut media sosial memiliki energi dan lebih menyentuh. (Mashable/OL-12)
mediaindonesia.com/.../807/4/-Keampuhan-Media-Sosial-Di-Saat-Krisis- - Salinan

Masih berminat untuk menjadi pejabat publik sebangsa walikota, bupati, gubernur, menteri, atau bahkan presiden dan sebagainya? Mungkin Anda perlu berpikir matang-matang, terutama di saat media sosial makin marak dalam tempo tidak lama lagi. Ketika masa itu tiba, Anda, para pejabat publik, akan semakin gerah dan lebih sering merasa ”ditelanjangi” karena apapun kebijakan yang digariskan akan dikupas habis-habisan secara langsung oleh masyarakat.
Perkembangan media sosial (social media) di jagat maya yang kian menjadi-jadi itu akan mendampingi—atau bahkan melampaui  kemampuan—media massa yang sudah eksis selama ini. Fenomena ini menandai sebuah era perubahan besar yang bukan tidak mungkin akan mengubah berbagai peta dunia, baik dari sisi demografi, ekonomi, sosial, bahkan politik.
Betapa tidak. Perkembangan media sosial kini jauh lebih pesat seiring dengan penetrasi peranti komunikasi bergerak, ketersediaan jaringan komunikasi yang lebih berkualitas dan makin terjangkaunya biaya komunikasi itu sendiri. Lihat saja beberapa fenomena penyuaraan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah secara terang-terangan di beberapa media sosial populer seperti Facebook dan Twitter.
Bagi yang aktif mengikuti pergerakan isu melalui media sosial mungkin belum lupa ketika Menteri Kominfo Tifatul Sembiring diblejeti habis-habisan di Twitter setelah bersalaman dengan Ibu Negara AS Michelle Obama sewaktu bersama suaminya mengadakan kunjungan kenegaraan di Jakarta.
Peristiwa itu pun menuai protes melalui “media kicauan” tersebut yang menyatakan kenapa kalau sama First Lady AS mau bersalaman tapi dengan perempuan lainnya tidak pernah mau. Seakan ingin membela diri, mantan Presiden PKS itu berkilah bahwa Ibu Obamalah yang menyodorkan tangan terlebih dulu dan posisi dirinya kepepet sehingga dia terpaksa menerima uluran tangan alias bersalaman tersebut.
Spontan saja, di dunia per-tweet-an dipenuhi reaksi pro-kontra soal peristiwa persalaman—yang diekspresikan sebagai #salaman (dibaca sebagai “hash tag salaman”) alias pengategorian terhadap topik, subjek atau terminologi yang merujuk pada peristiwa salaman tersebut. Bahkan, tak tanggung-tanggung, topik #salaman itu sempat menjadi trending topics alias topik hangat beberapa jam di jagat Twitter global, sampai-sampai sejumlah media online AS mengangkatnya menjadi berita atau artikel.
Bagi sejumlah orang, mengedepankan persoalan seperti itu memang terkesan remeh-temeh. Namun, karena hal ini menyangkut konsistensi sikap dari seorang tokoh publik atau selebritis maka menjadi relevan adanya sehingga menjadi bahan perbincangan publik. Bahkan, bagi sejumlah publik AS, pernyataan bernada keengganan salah seorang pejabat tinggi Indonesia untuk bersalaman dengan Ibu Negara mereka dianggap sebagai sebuah sikap tidak menghormati tamu negara, mengingat mereka tidak memahami alasan dasar yang berkaitan dengan keyakinan seseorang itu.
Itu sekadar contoh betapa partisipasi masyarakat dalam menyoroti berbagai urusan publik kini semakin jauh dan kian mendalam sehubungan dengan meningkatnya partisipasi mereka dalam bersuara melalui media sosial. Tentu saja topik yang akan digemakan pun makin bervariasi dan akan lebih tajam pengupasannya.
Revolusi 2.0
Kisah terbaru tentang media sosial tentu saja tumbangnya pemerintahan Hosni Mubarak. Peristiwa dramatis yang berkulminasi pekan lalu itu menjadi salah satu bukti yang makin memperjelas betapa kekuatan media sosial demikian luar biasa. Tanpa mengecilkan arti gerakan anti-Mubarak yang dilakukan serentak oleh 20 jutaan warga Mesir di pelbagai kota atau wilayah di Negeri Piramida itu, dukungan antusias dari  ratusan juta warga Facebook dan puluhan juta warga Twitter sedikit banyak memberikan andil bagi upaya memundurkan Mubarak dari tampuk kekuasaan yang dikangkanginya selama tiga dekade tersebut.
Tidak berlebihan kiranya jika media sosial, terutama Facebook, sedikit banyak turut menyumbang keberhasilan rakyat Mesir menjungkalkan Mubarak dari kursi kekuasaannya, sehingga gerakan massa tersebut dijuluki sebagai Revolusi Facebook atau Revolusi 2.0 (Internet 2.0 yang mulai diglobalkan pertengahan dekade 2000-an ditandai sebagai internet interaktif).
Warga dunia pun makin paham duduk perkara kenapa pemerintahan Mubarak harus dilengserkan karena penguasa Mesir tersebut cenderung menjadi penguasa absolut dan tentu saja tidak tertutup kemungkinan pemerintahannya korup. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, disebutkan bahwa kekayaan keluarga Mubarak mencapai puluhan miliar dolar AS—bahkan ada yang menyebutkan angka ratusan miliar dolar AS.
Padahal, di sisi lain masih banyak warga Mesir yang hidup dalam kekurangan sehingga mereka cukup sensitif ketika harga berbagai barang kebutuhan pokok di pasaran melonjak seiring dengan tren kenaikan harga minyak dunia.
Mesir memang bukan negara kaya, malah cenderung miskin. Menurut catatan Bank Dunia, GDP rakyat Mesir sekitar US$2.500 per kapita pada akhir 2009. Selama Mubarak berkuasa, negeri itu memperoleh bantuan dari AS senilai US$36 miliar sebagai kompensasi dari ”sikap manis” Mesir menjaga perdamaian dengan Israel—sekutu utama AS di Timur Tengah—serta berbagai peran penting yang dimainkan negeri para Firaun itu secara langsung maupun tidak dalam menjembatani kepentingan Gedung Putih di kawasan tersebut.
Tanpa perantaraan media jejaring sosial, mungkin saja keruntuhan kekuasaan Mubarak tetap saja berlangsung namun bisa jadi prosesnya akan lebih lama dan dukungan dunia barangkali tidak akan sebesar yang terjadi pekan silam. Namun, seperti diakui oleh banyak orang, peran media sosial—berbasis internet—tadi dalam menggalang massa sehingga mereka bersedia melaksanakan gerakan massal untuk menggulingkan pemerintahan Mubarak yang dinilai korup tersebut sangatlah efektif.
Seperti dikatakan Wael Ghonim, eksekutif pemasaran Google untuk Timur Tengah, yang konon dianggap mengarsiteki kampanye penggulingan Mubarak melalui Facebook, peran media sosial rintisan Mark Zuckerberg untuk membangun jaringan dan menggalang massa itu memang efektif.
Media sosial memang sekadar wadah, tidak lebih. Namun, dengan sentuhan kreativitas maupun kekritisan para penggunanya, terbukti bahwa ia menjadi alat ampuh untuk menuntaskan kegelisahan, ketidakpuasan, atau bahkan kemarahan massa. Karena itu, selayaknyalah setiap pemimpin kini bersikap dan bertindak lebih bijaksana.
Apakah Anda pemimpin negara, kepala pemerintahan tingkat daerah, maupun pemimpin institusi yang menyangkut kepentingan publik secara langsung, hendaknya tidak gegabah dalam menerapkan action plan dari kebijakan yang Anda gariskan. Karena, gerakan massa berbasis media sosial makin menguat posisinya dan suatu ketika akan menjadi sarana yang dapat menggoyang kedudukan Anda.
Akan tetapi, bukan berarti Anda harus selalu merasa waswas atau bahkan antipati terhadap eksistensi media sosial. Tidak! Justru, keberadaan media sosial tadi dapat menjadi sarana yang dapat mendukung kepemimpinan Anda. Untuk itu, Anda harus benar-benar memahami dan mengakrabi fungsi media sosial tadi, sehingga mampu memetik manfaatnya. Lebih penting lagi adalah bahwa Anda harus bersikap bijak, bersih dan dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinan Anda, agar tidak mudah digoyang siapa pun, baik melalui media bisik-bisik, media massa, maupun media sosial.
Ahmad Djauhar
Wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia



MEDIA SOSIAL JADI MEDIA PROMOSI, RI Juara Penetrasi Twitter
Oleh Rizagana dan Imam Suhartadi | Sabtu, 29 Januari 2011 | 10:02
Seorang user membuka Twitter di ponselnya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZASeorang user membuka Twitter di ponselnya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA
Berita Terkait
JAKARTA – Pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial di Tanah Air terus melesat. Bahkan Indonesia menempati peringkat pertama dunia penetrasi pengguna Twitter. Berdasarkan survey yang digelar comScore, rasio pengguna Twitter dibanding pengguna internet di Indonesia mencapai 20,8%, diikuti Brasil (20,5%), dan Venezuela 19,0%. Di AS, penetrasi pengguna Twitter bahkan hanya 11,9%.

Sedangkan dilihat dari perbandingan pengguna Twitter terhadap jumlah penduduk, Indonesia menempati peringkat keenam dunia dan tertinggi di Asia, sebesar 2,41%. Pengguna internet di Indonesia kini mencapai 45 juta. Dengan penetrasi 20,8%, berarti terdapat sembilan juta pemilik akun Twitter.

Media sosial tak lagi sekadar media pertemanan, tapi lebih dari itu. Apalagi dengan hadirnya blog-blog gratis, situs jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Youtube. Media social telah menjadi wadah penggalangan opini publik dalam rangka jual ‘diri’ atau jual produk.

Menurut Chief Marketing Officer PT Merah Cipta Media (MCM) Herman Kwok, media sosial dalam perkembangannya telah menjadi wahana penggalangan opini publik. Opini di dunia maya, kemudian ditransfer menjadi opini di dunia nyata. Itulah yang terjadi dalam kasus Wikileaks, pimpinan KPK Bibit- Chandra, serta Prita versus RS Omni International, dan yang lainnya.

“Fenomena ini wajar di Negara demokrasi seperti Indonesia. Justru dengan adanya media sosial kegundahan dan keresahan masyarakat mendapatkan tempat penyalurannya. Itu lebih bagus daripada mereka aksi turun ke jalan,” kata Herman Kwok di Jakarta, Kamis (27/1).

Namun, pentransferan opini di dunia maya menjadi opini di dunia nyata itu terjadi dengan cepat. “Ini perlu diwaspadai karena suatu rumor negatif dapat dengan mudah bergerak lebih cepat dan dalam skala yang sangat masif,” jelas dia. Itulah yang terjadi pada kasus Wikileaks, yakni pembocoran dokumen negara Amerika Serikat (AS), yang dilakukan secara masif lewat internet, dan kemudian ‘disahkan’ oleh media massa.

Media massa kemudian mencari konfirmasi dari pejabat-pejabat yang disebut di dalam dokumen itu.
Baca selengkapnya di Investor Daily versi digital di
http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Menggunakan Media Sosial Sesuai dengan Peruntukannya
oleh Fikri
bloggingly.com/menggunakan-media-sosial-sesuai-dengan-peruntukannya - 71k -
Social Media Chart
Di pertengahan dan akhir tahun lalu, diskusi mengenai “kematian” blog seiring dengan menaiknya penggunaan media sosial -yang berimplikasi tersitanya waktu untuk ngeblog- seperti Facebook, Twitter dan lain-lain kian marak. Hari ini, prediksi tersebut tampak menjadi nyata. Jumlah blogger senior yang aktif dari zaman sebelum blog bahkan populer tampak kian menurun. Mereka tampak lebih gemar menyampaikan ide lewat twitter yang lebih singkat, cepat, ringkas, realtime dan responsif. Saya pribadi menggunakan twitter dan merasakan betapa menyenangkannya media tersebut. Bagaimanapun, saya pribadi lebih memilih untuk aktif di beberapa media sosial yang saya anggap relevan dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan yang saya anggap relevan dengan media sosial tersebut.
Berikut ini adalah bagaimana saya memandang beberapa platform media sosial dan bagaimana saya menggunakannya. Perlu diingat bahwa tidak ada yang absolut di ranah web (bahkan tampilan polos Google saja tidak absolut), sehingga bagaimana saya menggunakan media sosial ini bersifat relatif: silahkan adopsi jika anda merasa cocok dan tidak masalah jika berbeda pandangan – silahkan sampaikan pandangan anda. :)
Facebook
facebook iconBerdasarkan diskusi yang sangat menarik via twitter dengan @ikhlasulamal, facebook adalah platform untuk membina hubungan. Facebook adalah platform untuk membina relationship dengan orang-orang yang kita kenal secara langsung di dunia nyata. Saya ulangi: dengan siapa yang kita kenal langsung di dunia nyata. Saya rasa inilah yang mendasari hubungan antar user di Facebook yang membutuhkan approval – untuk menjamin bahwa siapa yang terhubung dengan kita adalah orang-orang yang benar-benar kita kenal dan bukan alay yang meng-add anda karena profile picture anda terlihat kece dan agar jumlah teman di friendlistnya jadi banyak.
Implikasi dari pandangan saya diatas:
  • Pembicaraan saya di facebook lebih pribadi; Dengan jokes-jokes yang konteksnya mungkin hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengenal saya secara langsung. Conversationnya lebih personal.
  • Hanya teman-teman yang saya kenal secara langsung yang ada di friendlist saya.
  • Friend request dari orang yang tidak saya kenal secara langsung langsung saya ignore
  • Facebook adalah platform yang saya gunakan untuk menjaga hubungan dengan orang-orang yang saya kenal secara langsung.
Itu konsep dasarnya, pada prakteknya saya juga menggunakan photo application yang saya rasa sangat powerful sebagai default photo sharing saya untuk berbagi foto pada satu event dengan teman-teman saya. Lalu dikarenakan penetrasi facebook yang sangat tinggi dibandingkan twitter, banyak juga orang yang tidak saya kenal secara langsung memilih untuk berhubungan dengan saya via facebook. Untuk keperluan itu, saya membuat facebook page saya sendiri *berasa artis*.
Twitter
twitter iconMasih berdasarkan diskusi yang sangat menarik dengan @ikhlasulamal, twitter berbeda dengan facebook. Jika facebook dikembangkan untuk membina hubungan, twitter dikembangkan untuk melakukan “pembicaraan” atau “conversation”. Hal ini berdampak pada tidak perlunya kita mengumbar data pribadi di twitter: kita tidak perlu bio lengkap, nama asli, atau informasi esensial mengenai social graph kita. Hubungan antar user pun tidak memerlukan approval dan cukup di dasarkan hubungan “follow” dimana orang yang difollow tidak perlu memfollow balik jika dia rasa tidak perlu. Seperti obrolan ringan di angkot atau kedai kopi favorit anda: anda tidak perlu tahu siapa yang berbicara, apa latar belakangnya, atau apakah dia lajang atau duda: selama pembicaraannya menarik, lanjutkan saja.
Implikasi dari pandangan saya diatas:
  • Jika facebook adalah mengenai dengan siapa anda sekolah, twitter adalah mengenai dengan siapa anda ingin bersekolah
  • Pembicaraan di twitter bukan lagi pembicaraan personal
  • Saya tidak menutup “tweet” saya dengan protected tweet. Apa esensinya kalau begitu?
  • Facebook adalah mengenai apa yang saya ingin teman-teman saya ketahui tentang saya; Twitter adalah mengenai apa yang saya ingin dunia ketahui tentang saya. More professional discourse is tweeted in twitter instead in facebook.
  • Twitter app di handphone selalu menyala. Kadang-kadang ada yang menawarkan pekerjaan via direct message. Your twitter username is your social identity.
Blog
wordpress iconOke, jika twitter dan facebook memfasilitasi saya untuk “berbicara” baik kepada dunia dan teman-teman dekat, apalagi gunanya blog? Mengapa masih ngeblog?
Sederhana: karena blog lebih searchable.
Saya belum terlalu update dengan kabar terbaru seputar social search yang dikembangkan Google dan mesin pencari lain, tapi saya yakin kebanyakan orang-orang awam (seperti calon klien, calon partner atau bahkan calon mertua – kecuali kalau calon-calon nya geek pembaca setia DailySocial :p ) tidak akan tahu benda asing bernama social search. Jika mereka cukup tanggap terhadap teknologi, hal paling canggih yang saya asumsikan akan mereka lakukan adalah mengakses Google search / kolom search di Facebook dan mengetikan nama saya disana.
Di halaman pertama pasti terdapat akun facebook saya – namun mereka tidak akan bisa mengakses informasi personal karena privacy setting yang saya gunakan. Akun twitter juga akan nampak, namun tidak terlalu banyak pemikiran saya (yang bercampur dengan conversation – tentunya) yang dapat “ditangkap” melalui medium 140 karakter atau kurang yang jumlahnya berhalaman-halaman itu. Heck, this is why i need blog. Specifically, blogs.
Implikasi dari pandangan diatas, ini yang saya lakukan untuk blog:
  • Membuat blog pribadi dengan alamat namasaya.com (dalam kasus saya, fikrirasyid.com). Mengapa menggunakan nama asli langsung? Pertama agar orang tahu bahwa itu asli, kedua agar tampak baik di ranking Google Search, ketiga karena alamat blog adalah brand saya (itulah mengapa saya menggunakan .com alih-alih ngekos di free blog service).
  • Hal-hal yang saya bahas di blog pribadi adalah hal-hal yang sifatnya merupakan interest saya, namun bermanfaat jika saya share dengan orang awam / publik.
  • Untuk hal-hal yang sifatnya interest utama dan berpotensi menjadi karir, saya lebih pilih membuat satu niche blog lain. Sebenarnya digabung dengan personal blog pun bisa, namun saya lebih pilih membuat niche blog tambahan karena disatu titik tertentu (jika blognya menjadi terkenal dan membutuhkan perhatian ekstra) dapat dilakukan pendelegasian tanpa perlu canggung.
Bagaimana dengan media sosial lain?
Saya tidak terlalu aktif di media sosial lain, tapi saya memiliki akun di media sosial lain karena kebutuhan yang bersifat “musiman” (musiman untuk saya, tentunya – belum tentu musiman untuk anda) yang kerap kali ada:
  • YouTube untuk mempublikasikan video
  • Slideshare untuk mempublikasikan slide presentasi (btw, yang ini a-must-have jika anda seorang professional / guru / pelajar)
  • Scribd untuk mempublikasikan dokumen
  • Google Account untuk webmail client dan collaborative working dengan dokumen
  • Yahoo Account untuk berjaga-jaga dikala gmail bermasalah. Well, saya tidak terlalu aktif di berbagai service Yahoo sih.

Media Sosial Bisa Bikin Kesepian
http://kcdn5.stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/14/1111555p.jpg
Media sosial, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Artikel Terkait:
Selasa, 14/12/2010 | 11:13 WIB
KOMPAS.com — Saat ini, semakin banyak orang yang ketergantungan terhadap media sosial. Dari sana, Anda bisa melihat seberapa banyak teman yang dimiliki seseorang. Entah angka-angka itu memang menunjukkan benar orang-orang itu adalah teman yang dekat atau main asal add saja. Dari media sosial semacam ini, makin nyata bahwa ada begitu banyak orang yang bisa terhubung dengan Anda hanya dalam hitungan detik. Tinggal klik, dan Anda pun sudah terhubung dengannya. Komunikasi pun terjalin dengan instan. Idenya sih sederhana, menghubungkan yang jauh. Tetapi, menurut para peneliti dan pengamat, hal ini justru bisa membuat seseorang merasa kesepian. Kok bisa?

Leslie Becker-Phelps, PhD, dari WebMD melihat hal ini. Menurutnya, secara fakta, saat ini media sosial sudah berkembang sangat pesat dan semakin kompleks, bahkan lebih kompleks ketimbang interaksi tatap mata. Kekompleksitasan ini bisa merujuk ke dua hal, menjadi hal yang menguntungkan, tetapi bisa juga menjadi problem potensial. Mengirimkan surat elektronik, SMS, dan saling berbalas pesan di Facebook adalah cara termudah untuk saling bertegur sapa. Namun, hal ini sekaligus mempersempit jumlah informasi yang terjadi. Contoh, lewat pesan-pesan elektronik itu, kebanyakan orang bisa mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa harus benar-benar terlibat dalam perbincangan secara langsung. Kita bisa menilai apa yang sedang dirasakan oleh teman kita tanpa harus menatapnya langsung. Ia cukup menuliskan apa yang ia rasa. Namun, di saat yang bersamaan, kita makin lemah dalam menilai intonasi suara teman atau membaca gestur tubuh, atau melihat kejujuran dari tatap mata antar-manusia. Atau, pernahkah Anda menuliskan kata-kata seperti "ha-ha-ha" atau simbol tertawa terbahak-bahak, padahal di kehidupan aslinya, Anda tidak tertawa, tetapi hanya bermuka datar? Hal-hal semacam ini membuktikan bahwa berkomunikasi lewat media elektronik melemahkan kita untuk melatih interaksi tatap muka karena menjadi hal yang "aman" untuk berkomunikasi.

Beda orang, beda pula penggunaan media sosialnya. Beberapa riset menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kepribadian terbuka, outgoing, serta percaya diri terlihat tak terlalu merasa ketergantungan dengan media sosial. Bahkan, meski mereka terlihat aktif menggunakan media sosial, mereka lebih memiliki komunikasi yang lebih kompleks, seperti telepon atau komunikasi tatap muka. Bagi mereka, media sosial hanya membantu hubungan yang sudah terbentuk secara pribadi, atau untuk meluaskan persahabatan yang sudah terbentuk dan solid.

Kebalikannya, menurut Leslie, tipe orang yang insecure cenderung memilih media sosial sebagai bentuk utama komunikasi. Untuk mereka, e-mail memberikan rasa keamanan dari kekhawatiran yang biasa mereka hadapi saat melakukan interaksi tatap muka. Kesulitan berkomunikasi yang biasa mereka hadapi, antara lain, kelemahan dalam kemampuan bersosialisasi, ketakutan berada di tengah keramaian, dan mereka berusaha menghindari ketidaknyamanan tersebut dengan menekan jumlah waktu untuk berkomunikasi langsung. Semakin mereka menghindari situasi sosial, makin mungkin mereka akan meneruskan upaya untuk menghindarinya. Karena itu, mereka akan kekurangan interaksi sosial yang kompleks dan mendalam. Sebagai hasilnya, mereka akan merasa kesepian.

Cara terbaik bagi mereka yang mengalami masalah ini adalah dengan menghadapi masalah ini secara lembut. Mereka yang memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi harus bekerja keras untuk mengasah kemampuan yang diperlukan dalam interaksi langsung. Hal ini bisa dihadapi dengan terapi individual, terapi grup, atau buku pengembangan diri.

Sementara mereka yang sudah memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, tetapi masih merasa takut ada di tengah keramaian, perlu belajar untuk meningkatkan kekayaan dari cara berkomunikasinya. Ini bisa dilakukan dengan sendirinya, tetapi juga mungkin akan butuh bantuan profesional. Dalam kedua kasus di atas ini, saat seseorang mulai terbiasa dan nyaman dalam situasi sosial, mereka akan mulai merasa ada hubungan dengan orang lain, dan tak terlalu merasa kesepian lagi.

Media sosial bukanlah masalah. Itu hanya sebuah alat. Dengan menggunakan media sosial sebagai bagian untuk memperkaya hubungan yang sudah kuat, hubungan yang sudah terbangun dari komunikasi langsung dan interaksi personal bisa menjadi alat yang sangat membantu dan menyenangkan.
female.kompas.com/read/.../14/1113314/media.sosial.bisa.bikin.kesepian - Salinan

Pilkada:Harapan Rakyat TerhadapPemimpin

Lhokseumawe-Ungkapan penuh kesah terlihat dalam wajah tua Sofyan (62 th) warga gampong Blang Pulo dusun Arongan Kecamatan Muara Satu yang bekerja sebagai Tukang bangunan, hal ini mengingat rakyat akan dihadapkan dalam pesta demokrasi / Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) di Kota Lhokseumawe nanti, memilih pemimpin harus berfikir dua kali bagi saya, ungkap Sofyan.

Hal ini beralasan, karena ketika saya ingat pemilihan yg lalu banyak timses yang bekerja mengkampanyekan berbagai calon pemimpin untuk memilihnya, mulai dengan memberikan uang kepada masyarakat, dipaksa memilih, dan macam-macam lain. Tapi sekarang apa yang kita rasa, pemimpin sendiri sedangkan rakyat sendiri, misal seperi saya saat ini bekerja sebagai tukang bangunan, peghasilan saya tetap tidak berubah, seperti sekarang saya tidak bekerja jadi hanya membantu istri saya berjualan dikantin untuk mahasiswa Unimal yang kuliah di Bukit indah Lhokseumawe.

Pemimpin yang baik harus berbuat sesuai dengan perkataan saat kampanye dulu, kalau tidak sanggup berbuat maka jangan berkata yang terlalu tinggi, cukup berkata sesuai dengan kesanggupan dalam berubuat, apabila calon pemimpin terus berbohong disaat menjadi pemimpin kelak, maka kami rakyat tidak akan mempercayai lagi pemimpin yang sah dalam undang-undang negara, akan tetapi kami akan percaya kepada salah seorang pemimpin yang lahir dalam perjuangan rakyat yang mau melihat rakyat tertindas seperti kami, itu sebagai bentu perlawanan bagi saya, ungkap sofyan nada tegas.

Dalam pemilukada di Kota Lhokseumawe nanti, rakyat memerlukan sosok pemimpin yang tegas, berkata sesuai tindakan, tidak berbohong, dan tidak mau hura-hura atau berfoya-foya dengan uang rakyat, itu saja harapan saya.

Liputan : Ahmad Refki Bentara http://refkibentara.blogspot.com/2011/02/pilkada-harapan-rakyat-terhadap.html

Indahnya Ciptaan Allah

Indahnya Ciptaan Allah
Lokasi terminal labi-labi Kota Lhokseumawe
Fotografer : Zaki Mubarak

Filsafat Komunikasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Filsafat Sebagai Ilmu Untuk Bertanya
Filsafat pada dasarnya adalah perbuatan manusia dan tiap-tiap manusia akan berlaku sebagai filsuf pada waktu ia dalam kehidupan sehari-harinya menginsyafi (menyadari) akan tujuan hidupnya dan makna semua perbuatannya. Filsafat bukanlah suatu hikmah tersembunyi ataupun suatu ilmu yang sangat sukar. Andaikata seseorang belum mengenal istilah filsafat, orang itu dapat mewujudkan perilaku filsafati ataupun mempunyai watak filsafati. Namun ada perbedaan diantara suatu ilmu yang sulit dan filsafat yang dilaksanakan setiap manusia. Ilmu-ilmu mencoba merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan memerlukan keahlian tertentu. Sedangkan filsafat tidak bermaksud membentuk keahlian, melainkan untuk memperluas cakrawala pandangan manusia. Dalam filsafat terdapat dua aspek, yaitu ilmu sebagai jawaban terhadap pertanyaan, dan filsafat sebagai pertanyaan pada jawaban.

2.    Filsafat
Karena filsafat bersifat pertanyaan pada jawaban, maka pertama-tama filsafat mendekatkan kembali manusia pada kenyataan yang lengkap. Contoh: apakah jatuh cinta boleh hanya dijelaskan sebagai proses kelenjar saja dalam ilmu kedokteran, atau sebagai kelakuan lahiriah saja dalam bidang Psikologi? Disini filsafat bertanya apakah ilmu spesialisasi menjauhkan kita dari kenyataan jika kita lupa bahwa pandangan sebuah ilmu adalah khusus dan sempit. Kedua, filsafat mengintegrasikan ilmu, dimana ilmu-ilmu yang terpisah seperti: Ilmu Alam memandang sinar-sinar yang dipancarkan elektro-magnetik. Ilmu Hayat berkata bahwa matahari terdiri atas tenaga cahaya yang dapat dipergunakan oleh sel-sel hijau untuk fotosintesis, yaitu untuk menyusun bahan organis. Antropologi kebudayaan memandang matahari sebagai symbol atau arti yang menguasai beberapa agama yang primitif. Dan filsafat bertanya: apakah ada beberapa matahari? Hanaya satu saja. Maka pertanyaan filsafati menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak terpisah.  Ini berarti filsafat memberikan integrasi, layaknya sebuah  UNIVERSITAS, dibandingkan dengan MULTIVERSITAS.

3.    Ilmu
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.  Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit.  Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat. Ilmu sendiri berasal dari bahasa Arab “Ilm” yang berarti yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui.

4. Persyaratan ilmiah ilmu
Pengetahuan ilmu atau ilmu pengetahuan (lazim disebut ilmu saja) bertujuan untuk “tahu secara mendalam”. Terdapat sejumlah persyaratan agar suatu pengetahuan layak disebut ilmu, dan persyaratan ini disebut ilmiah. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigm ilmu-ilmu alam yang lahir terlebih dahulu.
a.    Obyektif. Ilmu harus memiliki obyek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Obyeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji obyek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan obyek, dan karenanya disebut kebenaran obyektif; bukan subyektif berdasarkan subyek peneliti atau subyek penunjang penelitian.
b.    Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c.    Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu obyek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
d.    Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda demgan ilmu-ilmu alam mengingat obyeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
Dengan demikian apabila pengetahuan hendak disebut ilmu, ia harus memenuhi sifat ilmiah sebagai syarat ilmu, yaitu: obyektif, metodis, sistematis, dan universal.
    
BAB II
PEMBAHASAN

Pada bab pertama, telah dipaparkan bagaimana filsafat berlaku sebagai ilmu untuk bertanya, dan juga telah diulas dengan singkat  persyaratan ilmiah suatu ilmu. Pada bagian pembahasan kita akan mengulas lebih dalam lagi filsafat ilmu dan filsafat ilmu komunikasi, serta membahas bagaimana bidang kajian komunikasi memenuhi persyaratan sebagai ilmu pengetahuan dan dinamakan ilmu komunikasi.

1.    Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pemikiran secara filsafati memungkinkan orang menganalisis segala sesuatunya dalam tiga wilayah yaitu “ada”, “pengetahuan”, dan “nilai”.
a.    Ontologi. Berada dalam wilayah ada. Berasal dari bahasa Yunani onto (ada) dan logos (teori) sehingga ontology dapat diartikan sebagai ilmu tentang ada. Dalam wilayah ini pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan adalah: apakah obyek yang ditelaah ilmu? Bagaimanakan hakikat dari obyek itu? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, mengindra) yang membuahkan pengetahuan dan ilmu?
b.    Epistemologi. Berada dalam wilayah pengetahuan. Berasal dari kata Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (teori) yang berarti teori tentang pengetahuan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: bagaimanakah proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapat pengetahuan yang benar? (Filsafat Metodologi), apa yang dimaksudkan dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? (logika).
c.    Aksiologis. Berada dalam  wilayah nilai. Berasal dari kata Yunani axion (nilai) dan logos (teori) yang berarti teori tentang nilai. Pertanyaan di wilayah ini menyangkut antara lain: untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional? (filsafat etika). 
Dari sini kita bisa melihat bahwa filsafat ilmu diartikan sebagai cabang filsafat yang mencoba mengkaji ilmu pengetahuan dari segi cara-cara perolehan dan pemanfaatannya.

2.    Filsafat Ilmu Komunikasi
a.    Ontologi Komunikasi dan Ilmu Komunikasi
Berdasarkan sejarahnya, semenjak ada kehidupan di muka bumi komunikasi antar organisme yang hidup dilakukan untuk mengungkapkan kebutuhan organis melalui sinyal-sinyal kimiawi. Seiring dengan kehidupan berevolusi, maka komunikasi juga. Sinyal-sinyal kimiawi primitif membuka perluang terjadinya perilaku yang lebih rumit, contohnya seperti tarian kawin pada ikan. Selain untuk seks, binatang berkomunikasi demi menunjukkan keunggulan. Sekitar 250 juta tahun yang lalu terjadi tahap penting dalam evolusi, yaitu adanya “otak reptil”. Otak ini bereaksi terhadap dunia luar hanya dengan memicu reaksi-reaksi fisiologis yang kita kenal sebagai “emosi”. Pada mamalia awal dan kemudian manusia otak lalu berkembang secara cemerlang, dimana otak reptil pemicu emosi ini dilapisi dengan segundukan sel otak tingkat “tinggi”. Otak reptil ini kemudian dinamakan system limbik, yang menentukan reaksi emosional dasar kita. Sistem ini dapat dipicu oleh panca indera seperti: penglihatan, bunyi, bau, kata , atau ingatan. Pada manusia, emosi ini kemudian diungkapkan dalam bentuk bahasa untuk berkomunikasi. S. Langer berpendapat bahwa bahasa bermula sebagai tindakan emosional – ungkapan yang meluap-luap, yang menggugah hati para pendengarnya. Sehingga komunikasi dapat dikatakan sebagai jalinan yang menghubungkan manusia.
Ilmu komunikasi adalah usaha penyampaian pesan antar manusia. Hal ini disesuaikan oleh dua hal dimana 1) sesuai dengan obyek materianya yang berada dalam rumpun ilmu sosial maka ilmu komunikasi harus terjadi antar manusia 2) Ilmu komunikasi menggunakan paradigm dimana pesan disampaikan dengan sengaja, dilatarbelakangi oleh motif komunikasi dan usaha untuk mewujudkannya.
Obyek material ilmu komunikasi adalah manusia dan tindakannya dalam konteks sosial, sementara obyek formanya adalah komunikasi itu sendiri sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia.
b.    Epistemologi Ilmu Komunikasi
Ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial yang berada dalam rumpun empiris (paham yang menekankan pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan) dapat dikembangkan berdasarkan paradigm positivist (menyatakan bahwa ilmu dibangun berdasarkan fakta empirik sensual: teramati, terukur, teruji, terulang, dan teramalkan à karenanya sangat kuantitatif) dan anti-positivist (ilmu menggunakan pendekatan kualitatif dan mencoba menyatukan obyek-subyek). Ilmu komunikasi berlatar positivist cenderung objektif, kebenaran ada pada objeknya. Sedangkan ilmu komunikasi berlatar antipositivist bersifat intersubjektif. Postivisme dan antipositivisme menurunkan jenis penelitian yang berbeda – penelitian komunikasi kuantitatif berlatar positivist yang obyektif, sedangkan penelitian komunikasi kualitatif lebih berlatar antipositivist yang intersubyektif dimana kebenaran merupakan kesepakatan antar subyek menyangkut interpretasi atas obyek. Empat strategi pengumpulan dan pengolahan data penelitian yang utama:
·    Eksperimen: lazim digunakan pada penelitian kuantitatif dimana diciptakan situasi laboratories untuk mengontrol variabel secara ketat dalam melihat pengaruh antar-variabel yang diteliti.
·    Survey: dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, dengan tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan, atau kecenderungan suatu tindakan. Survey lazim dilakukan untuk penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, survey lebih merupa pertanyaan tertutup, sementara dalam penelitian kualitatif berupa wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka.
·    Analisis teks: penelitian dimana obyek yang dikaji adalah teks dalam pengertian luas. Analisis teks lazim dilakukan untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif.
·    Partisipasi-observasi: lazim dilakukan pada penelitan kualitatif. Dalam strategi penelitian ini, subyek peneliti menyatukan diri dengan subyek penelitain berikut obyek penelitiannya dalam kurun tertentu.
c.    Aksiologi dalam ilmu komunikasi
Aksiologis mempertanyakan nilai: bagaimana dan untuk tujuan apa ilmu komunikasi itu digunakan. Penilaian ini menjadi terkait oleh nilai etis atau moral. Hanya tindakan manusia yang sengaja yang dapat dikenakan penilaian etis. Akar tindakan manusia adalah falsafah hidup: kesatuan nilai-nilai yang menurut manusia yang memilikinya memiliki derajat teragung yang jika terwujud ia yakin akan bahagia. Dalam aksiologi ilmu komunikasi pertanyaan utama adalah untuk tujuan apa praktisi komunikasi menggunakan ilmunya tergantung pada pokok jawaban atas pertanyaan pokok falsafah hidup individu manusianya: apakah ilmunya akan digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat, atau sebaliknya? Demikian pula halnya dengan ilmuwan komunikasi, falsafah hidupnya akan menentukan dalam:
(a)    Memilih obyek penelitian
(b)    Cara melakukan penelitian
(c)    Menggunakan produk hasil penelitiannya.


BAB III
KESIMPULAN

Kelayakan komunikasi sebagai ilmu
Dalam menentukan apakah Komunikasi layak menjadi ilmu maka bab sebelumnya telah membahas syarat-syarat ilmu dalam kaitannya dengan komunikasi. Syarat ilmu antara lain menyatakan bahwa ia harus memiliki objek kajian, dimana objek kajian tersebut harus terdiri satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya. Secara ontologis obyek material ilmu komunikasi hanya mengkaji penyampaian pesan antar manusia. Penyampaian pesan kepada yang bukan manusia berada di luar obyek kajiannya. Pesan adalah segala hasil penggunaan akal budi manusia yang disampaikan untuk mewujudkan motif komunikasi, tanpa motif maka sesuatu tidak dinilai sebagai pesan, karenanya tidak berada dalam kajian ilmu komunikasi. Syarat ilmu yang kedua menyatakan bahwa ilmu harus bersistem, dimana obyeknya itu tersusun dalam satu rangkaian sebab akibat yang tersusun secara sistematis. Dalam komunikasi sistem ini digambarkan sebagai; 1) mengapa manusia menyampaikan pesan à karena terdorong oleh motif komunikasi. 2) Dari mana datangnya motif komunikasi à karena adanya konsepsi kebahagiaan yang lahir dari naluri manusia sebagai paduan arah bertindak. 3) Dari mana konsepsi kebahagiaan à diturunkan dari falsafah hidupnya. 4) Dari mana  datangnya falsafah hidup? Diturunkan dari peralatan rohaniahnya yang bekerja secara simultan yaitu: hati nurani, akal, budi, dan seperangkat naluri. 5) Dari mana datangnya peralatan rohaniah yang bekerja secara simultan à Dari manusia. 6) Darimana datangnya manusia à berhenti, bukan kajian ilmu komunikasi sebagai pencarian sebab mengapa manusia menyampaikan pesan. Syarat yang ketiga ilmu adalah adalah metodis, dimana harus tersedia cara tertentu untuk membangun suatu ilmu, dan metode ini berdasarkan metode ilmiah. Sesuai dengan latar filsafat ilmunya, ilmu komunikasi mengenal dua macam metode penelitian, yaitu kuantitatif-positivist dan kualitatif anti-positivist. Kedua metode penelitian dengan dasar filsafat masing-masing menurunkan cara membangun ilmu yang berbeda dengan tujuan yang juga berbeda. Ilmu komunikasi dengan latar postivisme mencari generalisasi dan obyektifitas universal, dimana hasilnya bebas nilai. Sebaliknya ilmu komunikasi berlatar antipositivisme mencari intersubyektifitas guna membangun ilmu secara ideografik, dan hasil penelitiannya justru terkait nilai. Syarat ilmu yang keempat adalah universalitas, hal ini berlaku untuk ilmu komunikasi bagi kuantitatif-positivis namun tidak berlaku bagi kualitatif-antipositivis karena mereka tidak berprentensi untuk membangun generalisasi universal. Kuantitatif positivis yang berlatar ilmu alam, system sebab-akibat cenderung mekanistis: setiap sebab menimbulkan akibat yang pasti, terduga, dan teramalkan, sebaliknya kualitatif-antipositivis, system sebab-akibat cenderung humanistis: setiap sebab belum tentu menimbulkan akibat yang sama dan tak terduga, karena sangat tergantung pada factor situasional dan kondisional yang ada. Misalnya, sebab X membuat seseorang tertawa, disaat lain saat, sebab yang sama pada orang yang sama justru membuatnya menangis.
Menggunakan pemaparan persyaratan ilmu, maka disimpulkan bahwa komunikasi merupakan ilmu karena memenuhi syarat-syarat ilmu pada umumnya, namun secara khusus tidak persis sama. Pengandaian ini membuat komunikasi meredefinisikan empat persyaratan ilmu dengan mencabangkan syarat yang keempat, dimana universalitas tidak diharuskan. Namun hal ini diperlukan agar ilmu komunikasi bisa berkembang dan menjadi otonom, karena persyaratan mekanistis tidak bisa diterapkan pada manusia seutuhnya. Hal ini dikarenakan otak manusia yang terus berkembang. Perkembangan ini mengakibatkan perubahan perilaku manusia dalam upayanya beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Daftar Pustaka
1.    Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008.
2.    Sidharta, B Arief. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, Pustaka Sutra, Bandung 2008.
3.    Tebba, Sudirman. Filsafat dan Etika Komunikasi, Pustaka IrVan, Banten 2008.
4.    Wahid, Ramli Abdul. Ulumul Qu’ran, Grafindo, Jakarta, 1996, hal. 7.
5.    Gonnick, Larry. Kartun (Non) Komunikasi, Kepustakaan Populer Gramedia 2007, Jakarta. Hal 12-29.
6.    Langer, S. Mind, An Essay on Human Feelings. John Hopkins Press, 1973, Baltimore.
7.    Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication, 2004. Albuquerque, New Mexico.